Anak Muda

Kadang aku berpikir, barangkali anak muda hari ini tidak sedang kekurangan motivasi. Mereka hanya terlalu lama hidup di dunia yang kehilangan ketulusan. Dunia yang lebih menghargai pencitraan daripada kejujuran. Yang lebih memuji popularitas daripada kedalaman berpikir.

Anak Muda

Anak muda hari ini hidup di zaman yang aneh.

Mereka tumbuh di tengah dunia yang terlalu ramai,
tetapi diam-diam sering merasa sendirian.

Mereka diberi ribuan pilihan hidup,
tetapi semakin sulit menemukan arah.

Dunia berkata:
“kamu bisa jadi apa saja.”

Tetapi tidak banyak yang benar-benar mengajarkan:
bagaimana menjadi manusia yang utuh.

Anak muda hari ini dibesarkan oleh layar.

Bangun tidur melihat notifikasi.
Tidur ditemani cahaya biru.
Tertawa lewat potongan video pendek.
Belajar mengenal dunia dari algoritma yang bahkan tidak punya hati.

Dan perlahan perhatian mereka dicuri sedikit demi sedikit.

Bukan dengan kekerasan.

Tetapi dengan hiburan.

Hari ini anak muda sulit diam.

Bukan karena mereka lemah.

Tetapi karena dunia modern memang dirancang agar manusia tidak sempat berpikir terlalu dalam.

Semua bergerak cepat.

Cepat viral.
Cepat marah.
Cepat kagum.
Cepat lupa.

Akibatnya banyak anak muda tumbuh dengan kepala penuh informasi,
tetapi hati penuh kebingungan.

Mereka tahu tren terbaru,
tetapi tidak tahu tujuan hidupnya sendiri.

Tahu cara membangun citra,
tetapi kesulitan mengenali dirinya sendiri.

Dan mungkin yang paling menyedihkan:
banyak anak muda hari ini sebenarnya tidak malas.

Mereka hanya lelah.

Lelah dibanding-bandingkan.
Lelah mengejar standar hidup yang terus naik.
Lelah melihat keberhasilan orang lain setiap hari di layar.

Akhirnya hidup berubah seperti perlombaan tanpa garis akhir.

Semua merasa tertinggal.
Semua takut gagal.
Semua takut tidak dianggap berarti.

Padahal manusia tidak dilahirkan untuk terus menerus berlomba menjadi lebih hebat dari orang lain.

Kadang hidup hanya meminta kita menjadi manusia yang tidak kehilangan hati.

Tetapi dunia modern terlalu sering mengajarkan sebaliknya.

Anak muda dipaksa menjadi “branding”.

Harus terlihat sukses.
Harus terlihat bahagia.
Harus terlihat produktif.

Bahkan kesedihan pun sekarang sering dijadikan konten.

Dan di tengah semua itu,
banyak anak muda diam-diam kehilangan tempat pulang.

Mereka punya ribuan pengikut,
tetapi tidak punya tempat bercerita.

Punya banyak hiburan,
tetapi sulit merasa tenang.

Punya banyak koneksi,
tetapi tidak benar-benar merasa dimengerti.

Kadang aku berpikir,
barangkali anak muda hari ini tidak sedang kekurangan motivasi.

Mereka hanya terlalu lama hidup di dunia yang kehilangan ketulusan.

Dunia yang lebih menghargai pencitraan daripada kejujuran.

Yang lebih memuji popularitas daripada kedalaman berpikir.

Yang lebih sibuk mengejar angka,
daripada menjaga jiwa manusianya sendiri.

Tetapi mungkin harapan belum benar-benar hilang.

Karena selalu ada anak-anak muda yang masih mau berpikir,
masih mau membaca,
masih mau mempertanyakan hidup,
dan masih percaya bahwa manusia tidak diciptakan hanya untuk menjadi mesin konsumsi dan tontonan.

Mungkin dari mereka,
masa depan yang lebih tenang perlahan akan tumbuh kembali.