PLAY MAKER KECIL
Sebuah refleksi gelap tentang permainan kekuasaan, oligarki, propaganda, dan manusia-manusia kecil yang hidup di tengah negeri yang perlahan kehilangan arah. Tentang play maker yang bekerja diam-diam di balik layar, sementara rakyat sibuk saling membenci tanpa sadar sedang digiring dalam permainan besar yang sama.
PLAY MAKER kecil
Orang-orang biasanya hanya melihat apa yang tampak di layar.
Mereka melihat pidato.
Melihat presiden.
Melihat parlemen.
Melihat menteri datang dan pergi.
Lalu mengira seluruh arah negeri ditentukan di sana.
Padahal dunia sering bekerja jauh lebih sunyi daripada yang diberitakan.
Di balik gedung-gedung tinggi,
ada pondasi yang tidak pernah difoto kamera.
Ada tulang-tulang besar yang menopang permainan,
tetapi wajahnya jarang muncul di televisi.
Manusia terlalu sibuk melihat bidak catur,
sampai lupa ada tangan yang sedang menggerakkannya dari belakang meja.
Negeri ini memang republik.
Demokrasi.
Tetapi demokrasi modern hari ini kadang terasa lebih mirip panggung besar yang penuh pemain,
sementara naskahnya ditulis di ruangan yang tidak pernah dibuka untuk rakyat biasa.
Ideologi dipasang seperti spanduk kampanye.
Kanan.
Kiri.
Nasionalis.
Religius.
Kerakyatan.
Padahal di belakang layar,
banyak manusia diam-diam menganut satu ideologi yang sama:
kenyang bersama.
Rakus bersama.
Dan lucunya,
mereka bisa saling bertengkar di depan kamera siang hari,
lalu duduk makan di meja yang sama pada malam harinya.
Karena yang diperebutkan sering kali bukan kebenaran.
Tetapi ritme permainan.
Dalam sepak bola,
orang memuji pencetak gol.
Padahal permainan sering dikendalikan oleh play maker.
Ia tidak selalu mencetak angka,
tetapi menentukan arah permainan.
Mengatur tempo.
Mengatur serangan.
Mengatur ke mana bola harus bergerak.
Dan dalam negeri-negeri modern,
play maker seperti itu jarang terlihat.
Mereka tidak selalu menjadi presiden.
Tidak selalu duduk di parlemen.
Tidak selalu berbicara di podium.
Kadang mereka hanya:
pemilik modal,
pemilik media,
pemilik jaringan,
atau manusia-manusia yang cukup kaya untuk ikut menentukan arah keputusan tanpa pernah dipilih rakyat.
Presiden, perdana menteri, bahkan sebagian pejabat,
seringkali hanya eksekutor permainan.
Bidak yang diberi panggung besar agar rakyat merasa masih punya seseorang untuk dipuja atau dibenci.
Padahal permainan sesungguhnya bergerak jauh di belakang layar.
Dan semakin besar permainan,
semakin sedikit wajah yang terlihat.
Mereka tidak butuh baliho.
Tidak butuh tepuk tangan.
Karena pengaruh terbesar sering bekerja dalam diam.
Mengalir lewat:
investasi,
utang,
media,
algoritma,
lobi,
dan ketakutan manusia terhadap kehilangan kenyamanan hidupnya sendiri.
Negeri cEMAS mungkin hidup di tengah permainan seperti itu.
Rakyat kecil sibuk bertengkar di bawah.
Saling serang karena pilihan politik.
Saling membenci karena warna dan simbol.
Padahal mereka hanya penonton yang terlalu emosional terhadap pertandingan yang bahkan tidak mereka pahami sepenuhnya.
Dan mungkin yang paling menyedihkan,
manusia modern semakin sulit membedakan mana pemimpin,
mana pemain,
dan mana pemilik papan permainannya sendiri.
Sebab hari ini kekuasaan tidak selalu tampil memakai mahkota.
Kadang ia hadir memakai jas sederhana,
senyum tenang,
dan tangan yang tidak pernah terlihat,
tetapi mampu menggerakkan arah sebuah negeri tanpa harus berdiri di depan kamera.
Play maker memahami satu hal:
menguasai negara tidak selalu harus menjadi kepala negara.
Cukup menguasai:
arus uang,
media,
utang,
energi,
data,
dan manusia-manusia yang lapar kekuasaan.
Maka sebuah negeri perlahan bisa diarahkan seperti menggiring bola di lapangan kosong.
State capture tidak selalu datang dengan tank dan suara tembakan.
Ia datang lebih halus.
Lewat regulasi.
Lewat proyek.
Lewat investasi.
Lewat hutang.
Lewat krisis yang dipelihara perlahan.
Dan ironisnya,
manusia modern sering tidak sadar sedang digiring.
Karena permainan hari ini tidak lagi memakai rantai.
Ia memakai kenyamanan.
Sedikit bantuan.
Sedikit hiburan.
Sedikit rasa takut.
Sedikit harapan palsu.
Lalu manusia perlahan kehilangan kemampuan melihat siapa sebenarnya yang sedang mengendalikan arah permainan.
Dalam papan catur,
kadang play maker hanya perlu menggerakkan benteng atau kuda.
Sedikit langkah kecil.
Tetapi efeknya mampu mengguncang seluruh papan.
Satu kebijakan bisa membuat harga pangan naik.
Satu tanda tangan bisa menggunduli hutan puluhan tahun.
Satu krisis bisa memindahkan kekayaan dalam jumlah besar dari rakyat kecil menuju meja manusia-manusia tertentu.
Dan yang paling sering menjadi tumbal tetap sama:
rakyat kecil.
Mereka yang bangun pagi,
bekerja sampai malam,
membayar pajak,
menahan lapar,
dan tetap percaya bahwa semua ini sedang dilakukan demi masa depan yang lebih baik.
Padahal sering kali mereka hanyalah angka di dalam permainan besar yang tidak pernah mereka pahami sepenuhnya.
Rakyat kecil terlalu sibuk bertahan hidup,
sementara para play maker sibuk mengatur arah permainan hidup mereka.
Dan mungkin yang paling menyakitkan:
semua itu dilakukan sambil tetap berbicara tentang demokrasi,
keadilan,
dan kesejahteraan bersama.
Dunia modern memang aneh.
Manusia kecil dipaksa percaya bahwa mereka bebas memilih.
Padahal pilihan-pilihan itu kadang sudah disusun sebelumnya seperti lorong sempit yang diarahkan menuju tujuan tertentu.
Lalu manusia saling bertengkar karena warna,
simbol,
dan tokoh.
Sementara para play maker duduk tenang melihat permainan tetap berjalan sesuai kepentingannya.
Dan semakin lama permainan itu berjalan,
semakin sulit manusia kecil memahami:
apakah negeri ini benar-benar sedang dibangun,
atau perlahan sedang dijual sedikit demi sedikit.
Karena krisis hari ini tidak selalu lahir dari kegagalan.
Kadang ia justru dipelihara.
Dipanjangkan.
Diarahkan.
Dijadikan momentum.
Sebab dalam dunia para play maker,
kepanikan rakyat sering lebih menguntungkan daripada rakyat yang tenang dan sadar.
Ketika rakyat sibuk cemas,
mereka tidak sempat membaca arah.
Tidak sempat bertanya:
siapa sebenarnya yang sedang diuntungkan dari semua kekacauan ini.
Dan seperti biasa,
yang pertama dikorbankan selalu manusia kecil.
Harga naik, mereka yang menanggung.
Lapangan kerja hilang, mereka yang tersingkir.
Pendidikan rusak, anak-anak mereka yang kehilangan masa depan.
Sementara di atas sana,
permainan tetap berjalan setenang rapat biasa di ruangan dingin penuh kopi mahal.
Kadang aku merasa negeri ini seperti kapal besar yang bocor perlahan dari bawah.
Rakyat kecil sibuk membuang air memakai ember kecil,
sementara sebagian manusia di dek atas masih sempat berpesta,
berdebat tentang kekuasaan,
dan berebut posisi duduk paling nyaman.
Padahal laut sedang masuk diam-diam.
Dan ironisnya,
manusia-manusia yang paling banyak berbicara tentang nasionalisme,
kadang justru paling lihai menjadikan negeri ini meja transaksi.
Tanah dijual.
Hutan dipindahkan.
Air diperdagangkan.
Masa depan digadaikan.
Lalu semua dibungkus dengan kata:
investasi,
pertumbuhan,
dan pembangunan.
Memang benar negeri ini masih berdiri.
Gedung masih tinggi.
Lampu kota masih menyala.
Media masih ramai.
Tetapi jauh di bawah permukaan,
banyak jiwa mulai lelah.
Karena hidup terasa semakin mahal,
sementara manusia semakin kehilangan alasan kenapa semua ini harus dipertahankan.
Dan mungkin yang paling menakutkan bukan para play maker itu sendiri.
Tetapi ketika rakyat perlahan mulai terbiasa menjadi korban.
Terbiasa dibohongi.
Terbiasa diperalat.
Terbiasa hidup dalam kecemasan.
Sampai akhirnya manusia berhenti berharap pada perubahan,
dan memilih bertahan hidup hari demi hari seperti penumpang kapal yang pasrah melihat badai datang dari kejauhan.
Play maker tidak bekerja memakai belas kasih.
Permainan sebesar itu terlalu mahal untuk dijalankan dengan hati.
Sebab bagi mereka,
manusia bukan lagi manusia.
Hanya posisi.
Hanya angka.
Hanya pion yang bisa dipindahkan sesuai kebutuhan permainan.
Sebelum seorang menteri jatuh,
mereka sudah menyiapkan calon penggantinya.
Sebelum satu tokoh habis masa gunanya,
sudah ada tokoh baru yang dibesarkan perlahan.
Benteng berikutnya.
Kuda berikutnya.
Wajah berikutnya.
Nama boleh berubah.
Partai boleh berganti warna.
Slogan boleh diperbarui.
Tetapi permainan tetap bergerak di lingkaran yang sama.
Dan rakyat sering tidak sadar,
bahwa yang mereka saksikan kadang hanyalah pergantian pemain,
bukan pergantian arah permainan.
Yang terlalu idealis perlahan disingkirkan.
Yang terlalu jujur dibuat kesepian.
Yang sulit diatur dibuat terlihat berbahaya.
Sementara yang patuh,
yang lentur,
yang mau mengikuti arus permainan,
perlahan dinaikkan satu per satu.
Dan seperti meja perjudian,
permainan tidak pernah benar-benar kosong.
Selalu ada pemain baru yang siap duduk,
selama masih ada keuntungan yang bisa diperebutkan.
Kadang aku berpikir,
mungkin inilah bentuk perbudakan modern paling halus.
Bukan rantai di kaki.
Tetapi sistem yang membuat manusia percaya dirinya bebas,
padahal arah hidupnya perlahan sudah ditentukan oleh permainan yang bahkan tidak sepenuhnya ia pahami.
Pihak kabinet, para menteri, bahkan rakyat kecil mungkin banyak yang tidak benar-benar sadar bahwa mereka sedang berdiri di dalam permainan besar yang sama.
Mereka saling tuduh.
Saling mencaci.
Saling menyerang di media sosial seperti musuh bebuyutan.
Padahal bisa jadi,
mereka sama-sama hanya manusia yang sedang digiring berjalan di lorong permainan yang tidak sepenuhnya mereka mengerti.
Dan mungkin itulah kemenangan terbesar para play maker:
membuat manusia kecil saling membenci,
sementara tangan yang mengatur permainan tetap duduk tenang jauh di belakang layar.
Tetapi aku bukan siapa-siapa.
Sedikit pengetahuanku tidak membuat dunia menjadi lebih baik.
Dan tulisan ini mungkin lebih pantas menjadi nasihat untuk diriku sendiri.
Jagalah jarak dari kebisingan informasi.
Karena tidak semua yang ramai berarti benar.
Buatlah kacamata berpikirmu sendiri.
Jangan menyerahkan seluruh isi kepalamu kepada layar dan propaganda.
Pertajam hati.
Perluas akal.
Lapangkan dada.
Dan teguhkan jiwa.
Karena di zaman yang penuh permainan seperti ini,
kesadaran mungkin menjadi salah satu bentuk kemerdekaan terakhir yang masih dimiliki manusia.
Agar kita tahu:
ke mana harus melangkah,
apa yang sedang dihadapi,
dan kapan harus berhenti ikut tenggelam di dalam kebencian yang sengaja dipelihara.
Sebab manusia yang terlalu larut dalam kebisingan,
perlahan kehilangan kemampuan mendengar suara nuraninya sendiri.
Dan semoga Allah menjaga manusia-manusia baik di negeri cEMAS ini.
Manusia-manusia kecil yang lelah,
yang bingung,
yang sering tidak tahu apa-apa,
tetapi tetap berusaha hidup jujur di tengah dunia yang semakin rumit.
Karena sebesar apa pun rencana jahat manusia,
setinggi apa pun makar yang disusun untuk mencelakakan kebenaran,
tipu daya Allah akan selalu lebih sempurna.
Play maker tetap hanyalah makhluk kecil di hadapan Tuhan.
Mereka bisa mengatur berita,
mengatur pasar,
mengatur ketakutan,
bahkan mungkin mengatur arah sebuah negeri.
Tetapi mereka tetap tidak mampu mengatur takdir terakhir yang ditulis langit.
Dan semoga Allah berkenan membersamai orang-orang yang didzalimi,
menjaga hati mereka agar tidak ikut menjadi gelap,
dan menjaga negeri ini agar tidak sepenuhnya kehilangan cahaya