Manusia Tanpa Wajah

Wajah adalah simbol martabat. Sebuah refleksi tentang kita hari ini yang hidup dalam kebisingan, kehilangan nurani, dan perlahan lupa bagaimana caranya pulang kepada dirinya sendiri dan Tuhan.

Manusia Tanpa Wajah

Summun bukmun ‘umyun fahum lā yarji‘ūn
Tuli. Bisu. Buta. Maka mereka tidak akan kembali.

Barangkali ini bukan hanya tentang kaum yang jauh di masa lalu.

Mungkin ini tentang kita hari ini.

Tentang manusia yang terlalu lama hidup dalam kebisingan,
hingga kehilangan kemampuan mendengar kebenaran.

Tuli.

Bukan telinganya yang rusak.

Tetapi hatinya terlalu penuh oleh dirinya sendiri.

Kebenaran hari ini sebenarnya masih terdengar.

Tetapi kita terlalu sibuk.

Terlalu merasa benar.

Terlalu yakin bahwa diri kita sudah paling tahu arah kehidupan.

Dan perlahan manusia mulai memilih:
mendengar yang menyenangkan ego,
bukan yang menyelamatkan jiwanya.

Lalu kita menjadi bisu.

Bisu terhadap kebaikan.

Bukan tidak tahu mana yang benar.

Tetapi takut kehilangan sesuatu.

Takut kehilangan jabatan.
Takut kehilangan kelompok.
Takut kehilangan kenyamanan.
Takut kehilangan tepuk tangan manusia.

Akhirnya lidah menjadi pandai berbicara tentang banyak hal,
tetapi gagap ketika harus mengatakan kebenaran.

Kita hidup di zaman ketika manusia begitu mudah berteriak di media sosial,
tetapi sulit berkata jujur kepada dirinya sendiri.

Dan akhirnya kita menjadi buta.

Buta terhadap petunjuk.

Buta melihat betapa sombongnya langkah kita hari ini.

Kita berjalan di muka bumi seperti tidak akan kembali.

Membangun kekuasaan,
membuat keputusan-keputusan besar,
mengatur hidup manusia lain,
seolah semua berada sepenuhnya di tangan kita.

Padahal napas saja masih dipinjamkan Tuhan.

Negeri ini bahkan meletakkan:
“Ketuhanan Yang Maha Esa”
di sila pertamanya.

Tetapi sudah sejauh mana Tuhan benar-benar dihadirkan dalam diri kita?

Bukan dalam pidato.

Bukan dalam slogan.

Tetapi dalam rasa takut ketika hendak berlaku zalim.
Dalam rasa malu ketika ingin berbohong.
Dalam kerendahan hati ketika sedang memiliki kuasa.

Jika sila pertama hanya tinggal tulisan,
jangan heran bila sila kedua kehilangan nyawanya.

apalagi sila tiga empat lima ?

Karena manusia tidak mungkin menjadi adil dan beradab,
jika hatinya masih mabuk oleh dirinya sendiri.

Hari ini manusia terlalu mudah mengklaim keberhasilan.

Pamer kemenangan.
Pamer kekuasaan.
Pamer pencapaian.

Seolah semua itu benar-benar miliknya.

Padahal manusia hanyalah makhluk yang pasti sebentar lagi menjadi tanah.

Dan mungkin yang paling menakutkan bukan kemiskinan,
bukan kegagalan,
bukan kehilangan jabatan.

Tetapi ketika hati perlahan tidak lagi mampu menerima kebenaran.

Ketika dosa terasa biasa.
Ketika kesombongan terasa wajar.
Ketika nasihat terasa mengganggu.

Dan kita tetap tertawa,
tetap sibuk,
tetap merasa aman,
sementara hati perlahan mengeras seperti batu.

Lalu apakah kita masih bisa kembali?

Apakah hati ini masih bisa luluh dengan keberanan?

Apakah kita hari ini yang begitu bangga pada dirinya sendiri masih mampu bersujud dengan sungguh-sungguh?

Atau jangan-jangan kita sudah terlalu lama berjalan tanpa Tuhan,
hingga lupa bagaimana caranya pulang.

Dan mungkin sebelum Allah benar-benar mengunci hati kita menjadi mati,
sudah waktunya kita berhenti sebentar.

Bukan untuk menunjuk siapa yang paling salah.

Tetapi untuk bertanya kepada diri sendiri:

sudah sejauh mana kesombongan tumbuh di dalam hati kita hari ini?

___________________oOo_____________________________

Mulut semakin besar.
Dada semakin dibusungkan.
Pidato semakin berapi-api.

Tetapi isi semakin kosong.

Kita hari ini terlalu pandai terdengar hebat.

Kalimat disusun tinggi.
Slogan diteriakkan keras.
Panggung dipenuhi tepuk tangan.

Namun sering kali yang dibela hanyalah:
diri sendiri,
golongan sendiri,
dan pencapaian pribadi.

Sedikit sekali yang benar-benar berbicara untuk keselamatan manusia. dengan jujur.

atau mungkin memang benar - benar sudah tidak paham,  bagaimana seharusnya menjadi manusia.

Manusia ingin terlihat peduli,
bukan benar-benar peduli.

Ingin terlihat bijak,
bukan sungguh-sungguh mencari kebenaran.

Dan karena itu dunia menjadi sangat ramai,
tetapi terasa semakin hampa.

Semua ingin bicara.
Sedikit yang mau mendengar.

Semua ingin dipuji.
Sedikit yang sanggup mengoreksi dirinya sendiri.

Dan mungkin yang paling berbahaya bukan manusia bodoh yang sadar dirinya bodoh.

Tetapi manusia yang terlalu lama dipuji,
hingga mulai mengira dirinya selalu benar.

Bahkan semut pun mungkin tertawa kecil melihat para wakil hari ini.

Lalu bertanya pelan:

“Kowe kuwi sopo, Dul?
Kowe lak mung wakil. Ojo adigang, adigung, adiguna .”

Karena kadang manusia terlalu lama duduk di kursi,
hingga lupa dirinya hanya titipan sementara.

Jabatan dianggap mahkota.
Kekuasaan dianggap milik pribadi.
Padahal semuanya hanya amanah yang sebentar lagi dimintai pertanggungjawaban.

Dan lucunya,
yang paling sering lupa justru manusia yang paling keras berbicara tentang pengabdian.

Mulut penuh janji.
Pidato penuh semangat.
Tetapi hati perlahan dipenuhi kerakusan.

“Kabeh kuwi oleh tanggung jawabe, Dul.”

Setiap keputusan.
Setiap tanda tangan.
Setiap uang rakyat.
Setiap kebohongan kecil yang disembunyikan di balik meja-meja rapat.

Tidak ada yang benar-benar hilang.

Dan mungkin yang paling menyedihkan bukan ketika manusia gagal menjadi besar.

Tetapi ketika amanah berubah menjadi serakah.