Rakyat negeri cemas selalu menunggu hadirnya manusia agung.
Sosok pemimpin bijaksana. Ratu adil. Penyelamat bangsa. Tokoh yang diharapkan mampu membawa negeri keluar dari kekacauan dan kegelisahan panjang.
Setiap musim pemilihan, manusia kembali menaruh harapan di wajah-wajah baru.
Poster dipasang. Pidato dikumandangkan. Janji ditebar seperti hujan menjelang musim tanam.
Dan rakyat kecil kembali berharap: barangkali kali ini datang manusia yang benar-benar berpihak kepada mereka.
Harapan itu sebenarnya tidak salah.
Karena rakyat membayar mahal negerinya.
Pajak, keringat, waktu, dan hidup mereka sendiri, dipakai untuk membangun kursi-kursi kekuasaan yang berdiri megah di tengah negeri.
Maka wajar jika rakyat berharap pemimpinnya: amanah, bijaksana, dan memiliki hati bagi manusia kecil.
Tetapi ada satu hal yang sering luput dilihat: wajah negeri sebenarnya tumbuh dari wajah manusia-manusia yang hidup di dalamnya sendiri.
Kita marah kepada korupsi, tetapi masih terbiasa tidak jujur dalam hal-hal kecil.
Kita berharap pemimpin amanah, sementara diri sendiri masih sering mengkhianati tanggung jawab sederhana.
Kita ingin dipimpin manusia bijaksana, tetapi media sosial sehari-hari dipenuhi: caci maki, kebencian, fitnah, dan kegemaran mempermalukan manusia lain di depan keramaian.
Negeri-negeri cemas hari ini tidak hanya rusak di gedung kekuasaan.
Ia juga retak di: ruang keluarga, jalan raya, kolom komentar, pasar, kantor, dan di dalam hati manusia-manusia yang hidup di dalamnya.
Karena pemimpin tidak lahir dari langit.
Ia tumbuh dari tanah masyarakatnya sendiri.
Lalu lucunya, rakyat negeri cemas sering berharap seperti ayam yang ingin dipimpin elang.
Mengagumi kekuatan yang tampak gagah dari kejauhan, tanpa sadar bahwa elang tetaplah pemangsa bagi ayam-ayam kecil di bawahnya.
Manusia sering jatuh cinta kepada: ketegasan yang keras, kemewahan, kekuasaan, dan pertunjukan citra, lalu berharap semua itu akan melindungi dirinya.
Padahal banyak manusia kuat justru hidup dari ketakutan manusia-manusia lemah.
Dan begitulah negeri-negeri cemas terus berjalan: rakyat kecewa kepada pemimpinnya, pemimpin kecewa kepada rakyatnya, sementara keduanya diam-diam sedang memantulkan wajah yang sama.
Karena negeri bukan hanya dibangun oleh siapa yang duduk di kursi paling tinggi.
Ia dibentuk oleh: cara manusia berbicara, cara manusia bekerja, cara manusia memperlakukan sesamanya, dan cara manusia menjaga hati kecilnya sendiri ketika tidak ada yang melihat.