Peradaban Runtuh

Peradaban Runtuh

Kadang peradaban tidak runtuh dengan suara ledakan.

Ia runtuh pelan-pelan.

Seperti atap rumah yang bocor setetes demi setetes,
lalu suatu hari roboh ketika semua orang sudah terlalu terbiasa mengabaikannya.

Ia tidak selalu dimulai dari istana.

Tidak selalu dari parlemen.

Tidak selalu dari pidato para pemimpin.

Kadang kerusakan sebuah bangsa justru tumbuh dari hal-hal kecil yang dianggap biasa.

Dari meja makan yang semakin sunyi.

Ayah sibuk dengan pikirannya sendiri.
Ibu lelah menyimpan cemas.
Anak-anak tumbuh ditemani layar yang lebih sering berbicara daripada keluarganya sendiri.

Rumah masih berdiri.
Tetapi percakapan perlahan mati.

Dan mungkin itu salah satu tanda zaman:
manusia semakin mudah terhubung,
tetapi semakin sulit benar-benar dekat.

Hari ini orang bisa berbicara berjam-jam di media sosial,
tetapi tidak tahu bagaimana memulai obrolan jujur dengan keluarganya sendiri.

Kita tertawa bersama video pendek,
tetapi lupa cara mendengar kesedihan orang di sebelah kita.

Humor menjadi pelarian.

Meme menjadi obat penenang massal.

Segala sesuatu dijadikan lucu,
karena manusia modern mungkin sudah terlalu lelah untuk benar-benar sedih.

Dan ironisnya,
kadang bangsa yang paling ramai bercanda justru sedang menyimpan luka paling dalam.

Kita menertawakan banyak hal:
korupsi,
kebodohan,
kemiskinan,
bahkan penderitaan.

Bukan karena semuanya lucu.

Tetapi karena jika terlalu lama dipikirkan,
mungkin hati kita tidak kuat menanggungnya.

Lalu perlahan manusia belajar satu hal yang berbahaya:
terbiasa.

Terbiasa melihat ketidakadilan.
Terbiasa mendengar kebohongan.
Terbiasa hidup dalam kebisingan.

Sampai akhirnya yang hilang bukan hanya rasa marah.

Tetapi rasa peduli.

Dan ketika manusia sudah berhenti peduli,
peradaban sebenarnya sedang sekarat diam-diam.

Bukan karena tidak ada gedung tinggi.

Bukan karena tidak ada teknologi.

Tetapi karena hati manusianya mulai kosong.

Karena bangsa tidak dibangun hanya dengan jalan tol,
angka pertumbuhan,
atau lampu kota.

Bangsa dibangun dari:
cara manusia memperlakukan keluarganya,
cara ayah berbicara kepada anaknya,
cara manusia menjaga rasa malu,
dan cara hati tetap hidup di tengah dunia yang semakin bising.

Mungkin itu sebabnya keruntuhan terbesar sebuah negeri sering tidak terlihat di berita.

Ia terjadi pelan-pelan:
di ruang makan,
di layar HP,
di keluarga,
dan di hati manusia kecil sehari-hari.