MENJADI MANUSIA

Refleksi tentang manusia-manusia kecil yang tetap berusaha hidup dengan tenang di tengah negeri yang penuh kecemasan. Tentang lelah, harapan, ketakutan, dan usaha sederhana menjaga hati agar tetap hidup di dunia yang bergerak terlalu cepat.

MENJADI MANUSIA

Negeri ini sebenarnya masih baik-baik saja.

Lampu kota tetap menyala.
Gedung-gedung masih berdiri.
Pidato masih diperdengarkan.
Dan manusia tetap berangkat bekerja setiap pagi seolah semuanya berjalan seperti biasa.

Yang berubah hanya isi dada banyak orang.

Ada yang diam-diam letih.
Ada yang mulai sulit tidur.
Ada yang tersenyum sambil menghitung sisa uang di sakunya.
Ada yang pura-pura kuat karena tidak punya waktu untuk runtuh.

Dollar naik.
Harga pokok naik.
PHK naik.

ISHG longsor.

Tetapi tenang.

Kata-kata motivasi masih gratis.

Pejabat tampil mewah, dibiayai petani sawah yang punggungnya patah oleh matahari.

Politikus tampil nyentrik, dibiayai tukang becak yang semakin jarang narik.

Dan rakyat kecil tetap diminta optimis,
meski isi dompetnya mulai terdengar lebih sunyi daripada isi pidato.

Karena di negeri ini,
yang paling murah memang harapan.

Dan yang paling mahal:
hidup sederhana tanpa kecemasan.

Dunia bergerak terlalu cepat.

Seolah manusia harus terus berlari agar tidak tertinggal.

Sebagian orang bukan serakah.

Mereka hanya takut kalah cepat.

Takut kehilangan tempat berpijak.
Takut tidak mampu menjaga keluarganya tetap hidup.
Takut suatu hari dunia tidak lagi menyediakan ruang bagi manusia-manusia kecil seperti mereka.

Maka manusia berlari dari pagi sampai malam,
sampai lupa bagaimana rasanya duduk tenang mendengar suara napasnya sendiri.

Padahal hidup mungkin tidak pernah benar-benar tentang mencapai sesuatu.

Kita terlalu lama mengira hidup adalah:
memiliki,
menang,
menjadi besar,
atau dikenali banyak orang.

Padahal hidup lebih mirip perjalanan panjang yang terus bergerak,
lalu perlahan pulang menuju dirinya sendiri.

Karena manusia tidak pernah benar-benar selesai memahami hidup.

Hari ini merasa mengerti sedikit.
Besok bingung lagi.
Lusa menemukan makna baru lagi.

Kadang merasa dekat dengan Tuhan.
Kadang merasa sangat jauh.
Kadang tenang seperti danau pagi.
Kadang kacau seperti langit sebelum hujan.

Dan mungkin memang begitulah manusia.

Pohon pun tidak langsung tinggi dalam semalam.

Ia tumbuh pelan.
Digugurkan musim.
Diterpa angin.
Dipukul hujan.
Lalu diam-diam tumbuh lagi.

Begitu juga manusia.

Mungkin sebab itu hati sering gelisah.

Karena ada sesuatu di dalam diri manusia yang terus bergerak mencari tempat pulang.

Dan selama masih hidup,
barangkali kita memang tidak ditakdirkan untuk benar-benar selesai memahami semuanya.

Cukup berjalan saja.

Tetap bertumbuh.

Tetap menjaga hati agar tidak mengeras.

Karena dunia modern terlalu sering mengajarkan manusia:
naik,
mempercepat,
memperbesar,
memperbanyak.

Seolah hidup hanyalah perlombaan panjang tanpa garis akhir.

Padahal ada fase ketika manusia tidak lagi tumbuh ke luar.

Melainkan tumbuh ke dalam.

Memperluas kesadaran.
Memperhalus hati.
Memperdalam cara memandang hidup.

Mungkin dulu manusia tumbuh dengan ambisi.

Dengan hasrat menaklukkan dunia.

Lalu suatu hari hidup membuatnya sadar,
bahwa tidak semua ruang harus diisi kebisingan.

Ada masa ketika manusia perlu belajar diam.

Belajar cukup.

Belajar menikmati hal-hal kecil yang dulu dianggap biasa.

Karena ruang kosong tidak selalu buruk.

Kadang justru di sanalah manusia mulai mendengar dirinya sendiri.

Mendengar suara Tuhan yang selama ini tenggelam oleh terlalu banyak keramaian.

Laut terlihat tenang bukan karena ia kosong.

Tetapi karena ia cukup luas untuk tidak gaduh oleh setiap batu kecil yang jatuh ke dalamnya.

Mungkin manusia juga begitu.

Tidak harus selalu menjadi besar.

Cukup menjadi luas.

Tetapi hidup hari ini membuat manusia takut diam.

Segala sesuatu diukur:
menghasilkan atau tidak,
produktif atau tidak,
viral atau tidak,
menguntungkan atau tidak.

Sampai manusia lupa:
hidup juga membutuhkan keindahan.

Padahal tidak semua hal indah harus menghasilkan uang.

Menyeduh kopi ketika hujan turun.
Menanam pohon kecil di depan rumah.
Ngobrol panjang tanpa tujuan.
Membaca perlahan.
Duduk diam menjelang malam.
Menulis sesuatu yang mungkin tidak dibaca banyak orang.

Itu juga bagian dari hidup.

Tetapi dunia modern membuat manusia merasa bersalah ketika sedang tidak menghasilkan apa-apa.

Seolah manusia harus terus menjadi mesin produksi agar pantas disebut berguna.

Padahal sawah tidak panen setiap hari.

Pohon juga tidak berbuah setiap musim.

Bahkan alam memiliki jeda.

Memiliki diam.

Memiliki waktu untuk memulihkan dirinya sendiri.

Mungkin manusia juga begitu.

Tidak semua hari harus menjadi pencapaian besar.

Kadang cukup:
bernapas,
menjaga hati,
dan tetap mampu melihat keindahan kecil yang masih tersisa di dunia ini.

Karena mungkin manusia paling miskin bukan manusia yang tidak punya uang.

Tetapi manusia yang kehilangan rasa takjub terhadap hidupnya sendiri.

Dan mungkin itulah yang membuat banyak manusia diam-diam lelah hari ini.

Bukan karena mereka malas hidup.

Tetapi karena hidup terasa seperti eskalator panjang yang terus bergerak naik.

Kalau berhenti sebentar saja,
manusia takut tergilas ke bawah.

Maka banyak orang hidup bukan karena ingin.

Tetapi karena terpaksa terus berlari.

Kepalanya penuh:
besok makan apa,
cicilan bagaimana,
masa depan anak bagaimana,
kalau sakit bagaimana,
kalau kehilangan pekerjaan bagaimana.

Karena itu,
kalimat “nikmati hidup saja”
kadang terdengar sangat mewah bagi sebagian manusia yang bahkan tidak punya ruang aman untuk bernapas.

Dan mungkin di situlah kita perlu lebih lembut memandang manusia lain.

Karena tidak semua orang punya kemewahan untuk tenang.

Sebagian manusia tetap tersenyum,
padahal hidupnya sedang ditahan rasa takut setiap hari.

Tetapi bahkan di tengah dunia seperti itu,
manusia tetap perlu menjaga satu hal kecil:

jangan sampai seluruh hidup habis hanya untuk mengejar dunia,
sampai lupa benar-benar hidup di dalamnya.

Dan jangan terlalu berkecil hati di dunia yang begitu luas ini.

Kita memang tidak pernah benar-benar baik-baik saja.

Kadang kuat.
Kadang rapuh.
Kadang penuh harapan.
Kadang ingin menyerah.

Tetapi mungkin memang begitulah manusia diciptakan.

Bukan untuk hidup tanpa luka.

Melainkan untuk terus berjalan sambil belajar memahami dirinya sendiri.

Dan di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat ini,
jangan lupa:

kita telah dibekali sesuatu yang sangat indah.

Akal untuk berpikir.
Hati untuk merasa.
Tangan untuk menolong.
Kaki untuk melangkah.
Telinga untuk mendengar.
Mata untuk melihat tanda-tanda kehidupan.

Betapa sempurnanya manusia diciptakan,
meski sering kali ia sibuk merasa kurang pada dirinya sendiri.

Karena mungkin yang paling dibutuhkan dunia hari ini bukan manusia-manusia hebat.

Melainkan manusia-manusia yang tetap memiliki hati.

Yang masih mampu:
merasakan,
bersyukur,
mencintai,
dan menjaga nuraninya tetap hidup di tengah zaman yang perlahan membuat semuanya mengeras.

Sebab hidup memang tidak selalu mudah.

Tetapi langit tidak pernah benar-benar meninggalkan manusia berjalan sendirian.