Orang Orang yang Lelah
Tentang aku, tentang kamu, tentang kita yang kadang terlalu lelah untuk berpikir lebih dalam dan terlalu sibuk untuk mengenali diri sendiri.
Yang tua kehilangan tuntunan.
Yang muda kehilangan arah.
Dan yang kecil tumbuh tanpa cukup kasih sayang.
Sebagian manusia hidup hari ini bukan untuk berkembang dan tumbuh.
Mereka hidup hanya untuk bertahan agar tidak runtuh.
Hari-hari berjalan cepat, tetapi jiwa manusia berjalan pincang.
Punya tenaga, tetapi kehilangan tujuan
Tidak ada waktu untuk berpikir.
Tidak ada ruang untuk merenung.
Tidak ada tenaga untuk benar-benar hidup.
Kita sedang membangun peradaban manusia lelah.
Manusia yang terlalu capek untuk membaca panjang.
Terlalu capek untuk memahami.
Terlalu capek untuk marah.
Lalu hiburan datang seperti obat bius massal.
Layar-layar kecil menyala sepanjang malam.
Jempol bergerak tanpa henti.
Video pendek terus mengalir seperti mesin yang sengaja dirancang agar manusia tidak sempat berpikir terlalu dalam.
Semua harus cepat.
Cepat tertawa.
Cepat marah.
Cepat lupa.
Tawa dibuat sebanyak mungkin agar manusia lupa betapa kosong dirinya sendiri
Dan perlahan kemampuan manusia untuk diam mulai mati.
Padahal manusia yang tidak mampu diam akan sulit mengenali isi hatinya sendiri.
Hari ini banyak manusia terlihat sibuk, tetapi sebenarnya kosong.
Mereka tahu semua berita.
Tetapi tidak mengenal dirinya sendiri.
Mereka tertawa setiap hari di media sosial.
Tetapi diam-diam tidak tahu mengapa hidup terasa begitu berat.
Layar menyala lebih lama daripada akal digunakan.
Manusia tertawa lebih keras,
tetapi semakin sulit duduk diam bersama pikirannya sendiri.
Hiburan yang berlebihan tidak lagi menenangkan.
Ia mengikis perhatian manusia sedikit demi sedikit.
Disiplin melemah.
Daya fokus rusak.
Kesabaran memendek.
Manusia mulai sulit membaca sesuatu yang panjang karena pikirannya terbiasa dipotong-potong oleh kebisingan.
Akhirnya bangsa ini memiliki banyak manusia yang bereaksi cepat,
tetapi berpikir dangkal.
Mudah tersinggung.
Mudah percaya.
Mudah diadu.
Hari demi hari manusia dicekoki kecemasan, kemarahan, perbandingan hidup, dan kebisingan yang tidak pernah selesai.
Akibatnya manusia semakin mudah lelah, tetapi sulit diam.
Semakin ramai, tetapi semakin kosong.
Spiritualitas pun perlahan berubah menjadi formalitas.
Ritual dijalankan,
tetapi hati kehilangan kedalaman.
Dan di tengah semua itu, spiritualitas perlahan berubah menjadi panggung.
Agama ramai di mulut,
tetapi sunyi di akhlak.
Spiritualitas berubah menjadi kosmetik sosial.
Dipakai agar terlihat baik,
bukan untuk benar-benar memperbaiki diri.
Informasi bertebaran seperti kabut.
Separuh berita dipelintir.
Separuh lagi diproduksi untuk menggiring emosi.
Rakyat dipaksa memilih kubu setiap hari.
Dukung ini.
Lawan itu.
Bela sini.
Benci sana.
Seolah hidup hanyalah pertandingan panjang antar warna dan simbol.
Seperti kontes topeng monyet. Kita disuruh memilih satu diantara beberapa topeng, padahal sama sama monyet dibelakang topeng. Dan kita bertengkar topeng mana yang lebih baik?
Monyet tidak buruk. Tidak. Tapi manusia berperilaku monyet itu tidak benar.
Kolonialisme hari ini tidak selalu datang membawa kapal perang.
Kadang ia datang membawa pinjaman.
Membawa hiburan tanpa arah.
Membawa algoritma yang membuat manusia lupa berpikir.
Membawa budaya konsumsi yang membuat rakyat sibuk mengejar gaya hidup yang bahkan tidak mereka butuhkan.
Manusia dibuat bekerja lebih keras untuk membeli lebih banyak,
lalu tetap merasa kurang.
Dan sistem seperti itu membutuhkan satu hal agar terus bertahan:
manusia yang tidak sempat sadar.
Dan mungkin tulisan ini bukan sedang menunjuk siapa-siapa.
Bukan tentang mereka.
Bukan tentang satu kelompok.
Bukan pula tentang satu penguasa.
Barangkali ini tentang kita semua.
Tentang manusia-manusia yang perlahan ikut hanyut di dalamnya.
Tentang aku,
tentang kamu,
tentang kita yang kadang terlalu lelah untuk berpikir lebih dalam,
terlalu sibuk untuk mengenali diri sendiri,
dan terlalu sering diam ketika hati sebenarnya tahu ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja.
Karena kerusakan besar jarang lahir dari satu manusia saja.
Ia tumbuh sedikit demi sedikit:
dari manusia yang berhenti peduli,
dari hati yang kehilangan arah,
dan dari masyarakat yang terlalu lama membiarkan dirinya hidup tanpa kesadaran.
Dan mungkin negeri ini belum benar-benar kehilangan harapan.