Yang Maha Tunggal
Tadabbur dalam bentuk sastra reflektif tentang kemurnian tauhid—mengenal Allah sebagai Yang Maha Tunggal, tempat bergantung segala sesuatu, dan tidak dapat disamakan dengan apa pun. Sebuah ajakan untuk tunduk, bukan membatasi-Nya dalam pikiran.
Dia, Allah—Yang Maha Tunggal.
Tunggal,
bukan untuk dibandingkan,
tapi karena memang tidak ada yang setara dengan-Nya.
Allah—tempat bergantung segala sesuatu.
Dia tidak beranak,
dan tidak pula diperanakkan.
Dia Yang Awal tanpa permulaan,
dan Yang Akhir tanpa kesudahan.
Dzat yang tidak tersentuh,
namun dekat—
tanpa jarak, tanpa batas.
Tidak terikat oleh waktu.
Tidak bergantung pada sebab.
Dan tidak ada satu pun
yang dapat disamakan dengan-Nya.
Namun sering kali…
kita memperlakukan-Nya
seperti sesuatu yang bisa kita pahami sepenuhnya.
Kita membayangkan.
Menyederhanakan.
Bahkan tanpa sadar—
menurunkan keagungan-Nya
ke dalam batas pikiran kita sendiri.
Maka jangan mencoba memahami-Nya sepenuhnya—
kita hanya makhluk yang dicipta,
yang bergantung pada-Nya dalam segala hal.
bukan untuk memahami-Nya,
tapi untuk tunduk…
dan berhenti menyamakan-Nya
dengan apa pun dalam pikiran kita.
serta bersaksi—
bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah
selain Allah.