MANUSIA DAN ILUSI KEBEBASAN
Manusia hari ini merasa dirinya paling bebas sepanjang sejarah.
Bebas berbicara.
Bebas memilih.
Bebas membeli.
Bebas bepergian.
Bebas membangun identitasnya sendiri.
Dunia seperti terbuka tanpa dinding.
Semua tersedia dalam satu sentuhan jari.
Pengetahuan,
hiburan,
pasar,
bahkan tubuh dan kehidupan manusia,
semuanya dapat diakses dengan cepat dan tanpa batas.
Tetapi justru di zaman yang merasa paling merdeka ini,
manusia perlahan kehilangan arah tentang apa arti kebebasan itu sendiri.
Karena kebebasan bukan sekadar:
melakukan apa saja.
Kebebasan adalah:
mengetahui batas.
Mengetahui mana yang membangun jiwa,
dan mana yang perlahan menghancurkannya.
Manusia modern merasa hidupnya milik dirinya sendiri.
Padahal banyak hidupnya digerakkan oleh sesuatu yang bahkan tidak benar-benar ia sadari.
Algoritma memilihkan apa yang dilihat.
Iklan memilihkan apa yang diinginkan.
Media sosial memilihkan standar hidup.
Tren memilihkan cara berpikir.
Dan ketakutan memilihkan keputusan-keputusan hidupnya.
Lalu manusia berkata:
“ini pilihanku.”
Padahal sebagian besar keinginan itu ditanam pelan-pelan setiap hari,
sampai akhirnya terasa seperti bagian dari dirinya sendiri.
Dulu budak dirantai tubuhnya.
Hari ini yang dirantai:
pikiran,
emosi,
dan perhatian manusia.
Manusia sulit lepas dari layar.
Sulit lepas dari validasi.
Sulit lepas dari rasa ingin dilihat.
Sulit lepas dari ketakutan tertinggal dari manusia lain.
Dan semua itu terjadi ketika manusia merasa dirinya sedang bebas.
Dunia modern tidak lagi menguasai manusia dengan cambuk.
Ia menguasai manusia lewat:
dopamin,
notifikasi,
short video,
judi online,
likes,
dan ledakan rangsangan yang terus menggempur otak manusia setiap detik.
Otak dipancing terus menerus mencari:
sensasi cepat,
hadiah instan,
dan kesenangan singkat.
Akibatnya manusia mulai kehilangan daya tahan batinnya sendiri.
Fokus melemah.
Kesabaran menurun.
Hidup sederhana terasa hambar.
Kesunyian terasa menakutkan.
Padahal jiwa manusia tidak dirancang hidup terus menerus dalam ledakan rangsangan.
Ia butuh:
diam,
jeda,
dan ruang untuk mendengar dirinya sendiri.
Tetapi dunia hari ini takut pada manusia yang benar-benar sadar.
Karena manusia yang sadar tidak mudah dikendalikan.
Maka manusia terus dibuat sibuk.
Sibuk mengejar citra hidup.
Sibuk membayar cicilan.
Sibuk mempertahankan gengsi.
Sibuk membeli hal-hal yang sebenarnya tidak benar-benar dibutuhkan.
Pinjol,
hutang,
gaya hidup,
dan flexing perlahan mengubah kebebasan menjadi cicilan panjang yang melelahkan.
Manusia bekerja bukan lagi untuk hidup.
Tetapi untuk mempertahankan pertunjukan hidup.
Dan semakin jauh manusia mengejar kebebasan tanpa kesadaran,
semakin dekat ia kepada bentuk perbudakan baru:
diperbudak oleh dirinya sendiri.
Leluhur Jawa sebenarnya telah lama memahami hal ini.
Trimo ing pandum bukan berarti menyerah kepada nasib.
Ia adalah kesadaran untuk memahami batas,
memahami cukup,
dan tidak membiarkan hawa nafsu menguasai seluruh arah hidup manusia.
Karena manusia yang tidak mampu mengendalikan dirinya,
akan mudah dikendalikan dunia.
Kebebasan sejati bukan hidup tanpa aturan.
Tetapi ketika:
hati,
akal,
dan perilaku,
tidak lagi diperbudak oleh dunia.
Dan lihatlah wajah negeri-negeri cemas hari ini.
Wajah para pemimpin.
Wajah para pemuka.
Wajah hukum.
Wajah para perwakilan yang berdiri di depan rakyat.
Sebagian tampil seolah manusia-manusia merdeka,
terbebas dari ilusi dunia,
menjadi contoh kesadaran bagi masyarakatnya sendiri.
Padahal di belakang panggung,
banyak yang sama lelahnya,
sama takutnya,
dan sama terikatnya oleh:
kuasa,
uang,
pencitraan,
serta keinginan mempertahankan kedudukan.
Lalu rakyat belajar dari apa yang dilihatnya.
Karena manusia lebih mudah meniru perilaku,
daripada mendengarkan nasihat.
Dan begitulah negeri-negeri cemas terus melahirkan manusia-manusia yang merasa bebas,
padahal hidupnya digerakkan oleh ketakutan yang tidak pernah selesai.