Api yang Kita Nyalakan Sendiri
Renungan tentang bahaya menunda menerima kebenaran—bagaimana hati yang terbiasa menolak perlahan membakar dirinya sendiri. Sebuah cermin bagi siapa pun yang merasa baik-baik saja, padahal sedang menjauh.
Tidak semua yang membinasakan kita
terlihat seperti ancaman.
Kadang…
ia hadir sebagai keyakinan
yang kita pegang terlalu kuat.
Kita tahu.
Tapi kita menunda untuk menerima.
Kita mengerti.
Tapi kita mencari alasan untuk menolak.
Dan pelan-pelan—
yang kita tolak itu
tidak hilang.
Ia hanya berubah…
menjadi sesuatu yang diam-diam membakar dari dalam.
Kita terus berjalan,
mengumpulkan,
membangun,
meyakinkan diri bahwa semuanya baik-baik saja.
Padahal ada sesuatu
yang kita abaikan sejak awal.
Dan yang lebih halus lagi—
ketika hati mulai terbiasa menolak,
ia tidak berhenti di situ.
Ia mulai mempengaruhi yang lain.
Membenarkan yang salah.
Membungkus penolakan dengan alasan.
Mengajak tanpa terasa.
Seolah-olah
kita sedang memegang kendali—
padahal kita hanya sedang
menambahkan kayu
ke dalam api yang kita nyalakan sendiri.
Sampai suatu saat…
yang tersisa bukan lagi alasan,
bukan lagi pembelaan,
tapi akibat—
yang sejak awal
kita pilih sendiri.
Kepada-Mu, ya Allah, kami memohon—
jangan biarkan hati ini mengetahui kebenaran,
lalu berpaling darinya