Pengorbanan Yang Terkonsep

Generasi Larva Seri#2 Konsideran

Pengorbanan Yang Terkonsep

Image by CFVI from Pixabay

SM Damar Panuluh

Founder of symbolic.id.

Pecinta teka-teki Observable World.

 

Pengorbanan. Terasa romantis, keren, juga heroik. Tapi ternyata, manusia bukanlah pelaku tunggal konsep ini. Walaupun hanya manusia yang memiliki kesadaran sebab-akibat lebih komprehensif, dalam melakukannya.

Adalah Lebah, makhluk lain yang juga niscaya menjalankan konsep tersebut. Tubuh dan perilakunya memang lebih sederhana dibanding kompleksitas manusia. Tapi ternyata, mereka mampu.

Perhatikan cara mereka hidup. Masing-masing giat bekerja membangun koloni, dengan melayani larva-larva yang bukan anak mereka. Kawanan lebah pekerja memang tidak memiliki kemampuan berkembang biak. Semua generasi muda hewan tersebut adalah keturunan si ratu. Lalu, ngapain mereka ulet merawat kelangsungan hidup lebah lain?

 

Belajar dari alam

Jauh sebelum manusia menghuni bumi, beragam makhluk telah lebih dulu terikat dengan hukum sebab-akibat yang disediakan alam. Boleh dibilang, mereka lebih nglothok. Sedangkan kita, baru kemarin sore.

Umpama saja, usia bumi hingga saat ini adalah 24 jam. Lalu manusia keturunan Adam kita, hadir sekitar pukul 23:58:43. Kita baru tinggal selama 1 menit 17 detik! Waktu yang sangat pendek. Karenanya, amat wajar kalau kita belajar dari pengalaman alam yang lebih tua.

Dari sudut pandang Gen, secara sederhana, ada sepasang strategi utama makhluk, agar mampu bertahan hidup dalam lingkungannya. Pertama, strategi Altruis, berikutnya adalah strategi Selfish. Keduanya bertujuan sama, yakni cara memperpanjang kemungkinan hidup Gen yang ada di dalam organisme itu sendiri, maupun anak-pinaknya.

Selfish ini mirip sikap individualistik. Serba untuk aku, semakin banyak yang tersedia untukku, kian besar kesempatanku hidup dan punya keturunan.

Altruis kebalikannya. Bersedia membagi sumber dayanya ke makhluk lain. Semacam pengorbanan demi liyan, dengan mengecilkan kesempatannya sendiri dalam bertahan hidup.

Sekilas, strategi altruis ini tidak masuk akal. Bagaimana dia bisa bertahan lama, kalau risikonya lebih tinggi ketimbang selfish?

Tapi nyatanya, strategi tersebut tetap banyak digunakan. Terutama pada cakupan saudara sedarah. Lazim disebut Kin altruism. Naluri untuk menolong saudara, lebih besar ketimbang mengulurkan tangan kepada orang yang tidak dikenal. Ingat konsep nepotisme?

Asas gotong royong yang lekat dengan keseharian masyarakat kita, sepemahaman saya, segaris dengan konsep altruis itu. Skalanya lebih lebar daripada sekedar Kin altruism. Atau bisa dilihat dari sudut pandang berbeda. Jika sebuah bangsa menjadi satu kaum yang bersaudara, maka Kin altruism ini berlaku bukan hanya kepada yang sedarah. Melainkan bagi semua anggota kaum tersebut. Konsep ini juga akrab didapati dalam ajaran agama.

Lalu, apakah strategi altruism ini selalu lebih berhasil dibanding selfish?

Belum tentu. Belajar pada alam, pengorbanan untuk kepentingan bersama, ternyata ada polanya juga. Risikonya jelas. Ketika pengorbanan dilakukan untuk pihak yang enggan balik berkorban, berarti pelaku altruism telah dimanipulasi oleh penerap selfish. Sumber daya terkumpul pada satu pihak saja, yakni si selfish tadi. Bila ditilik dari perspektif kaum, keadaan ini akan menyebabkan disparitas yang tinggi. Bukan pemerataan, tidak pula kebersamaan.

 

Pola altruism yang efektif, seperti yang diterapkan alam, dirumuskan Hamilton sebagai berikut:

r x B > C

r  = Derajat kedekatan genetik antara pihak yang membantu dengan yang dibantu.

B =  Kemudahan reproduksi yang didapatkan oleh yang dibantu.

C = ‘Harga’ yang harus dibayar oleh yang membantu

 

Berkorban dengan membantu sesama itu tidak sesederhana. Ada fakta konsiderasi tambahan, jika tujuannya adalah kebaikan sebesar-besarnya.

Bagaimana potret hamilton pada alam ini bisa diaplikasikan ke dunia manusia?