Kepala Batu

Kepala Batu

Negeri ini barangkali sedang dipimpin oleh terlalu banyak kepala batu.

Bukan batu yang diam di gunung.
Bukan batu yang tidur di dasar sungai.

Tetapi batu yang berjalan,
berpidato,
tersenyum di depan kamera,
dan duduk di kursi-kursi kekuasaan.

Mereka memiliki kepala,
tetapi semakin sulit mendengar.

Memiliki mulut,
tetapi terlalu sibuk berbicara.

Memiliki telinga,
tetapi hanya terbuka untuk pujian.

Dan seperti batu,
mereka perlahan kehilangan kemampuan merasakan.

Padahal negeri ini dibangun atas nama demokrasi.

Atas nama rakyat.

Atas nama suara-suara kecil yang dulu dijanjikan akan dijaga.

Namun entah sejak kapan,
para wakil mulai lupa bahwa mereka hanyalah pekerja kontrak lima tahunan.

Mereka datang membawa salam,
senyum,
dan janji-janji manis seperti hujan pertama setelah kemarau.

Tetapi setelah duduk terlalu lama di kursi,
banyak yang berubah menjadi musim kering.

Kursi kekuasaan memang aneh.

Ia bisa mengubah manusia biasa menjadi makhluk yang merasa dirinya separuh dewa.

Sedikit tepuk tangan membuat dada membusung.
Sedikit kuasa membuat langkah berubah angkuh.

Dan perlahan manusia mulai berjalan di atas bumi seperti tidak akan pernah dimintai pertanggungjawaban.

Hari ini pidato terdengar megah,
tetapi isi hati terasa kosong.

Kalimat disusun tinggi seperti menara.

Tetapi akarnya tidak lagi menyentuh tanah tempat rakyat berpijak.

Mereka berbicara tentang bangsa,
sementara diam-diam sibuk menghitung bagian meja masing-masing.

Negeri ini akhirnya terasa seperti jamuan besar yang dipenuhi manusia lapar.

Bukan lapar perut.

Tetapi lapar kuasa.
Lapar pengaruh.
Lapar pengakuan.

Dan yang paling menyeramkan:
lapar jenis itu tidak pernah benar-benar kenyang.

Ia terus makan,
bahkan ketika meja rakyat mulai kosong.

Kadang aku merasa negeri ini seperti pohon tua yang sedang sakit diam-diam.

Daunnya mulai mengering satu per satu.

Batangnya masih berdiri gagah,
tetapi bagian dalamnya mulai lapuk dimakan rayap.

Akar-akarnya saling membelit dalam tanah yang keruh.

Dari luar masih terlihat hidup.

Masih ada bendera.
Masih ada lagu kebangsaan.
Masih ada pidato tentang harapan.

Tetapi dari dalam,
ada sesuatu yang perlahan membusuk.

Dan mungkin yang paling menyedihkan:
kita semua ikut hidup di dalam kebusukan itu terlalu lama,
sampai mulai sulit membedakan mana udara segar dan mana bau busuk yang telah biasa dihirup setiap hari.

Hari ini semuanya terasa abu-abu.

Yang dulu disebut kawan bisa berubah lawan.
Yang dulu berteriak tentang rakyat bisa duduk makan bersama kerakusan.

Topeng bertukar warna begitu cepat,
hingga manusia lupa wajah aslinya sendiri.

Kita hidup di zaman ketika citra lebih penting daripada nurani.

Orang ingin terlihat peduli,
bukan sungguh-sungguh peduli.

Ingin terlihat sederhana,
bukan benar-benar hidup sederhana.

Dan di tengah semua itu,
rakyat kecil tetap bangun pagi,
menyapu jalan,
menjual gorengan,
mendorong gerobak,
membayar pajak,
dan diam-diam menahan lelah agar rumah mereka tetap punya lampu yang menyala malam hari.

Kadang aku bertanya,
entah kapan terakhir kali para kepala batu itu benar-benar mendengar suara rakyat tanpa pengeras suara dan panggung.

Tanpa kamera.

Tanpa tepuk tangan.

Tanpa naskah pidato.

Mungkin terlalu lama hidup di atas membuat manusia lupa bagaimana rasanya berdiri di tanah.

Tetapi tulisan ini bukan sedang menunjuk siapa yang paling salah.

Karena mungkin kerusakan negeri tidak lahir hanya dari satu manusia.

Ia tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dibiarkan.

Dari kebohongan yang ditoleransi.
Dari keserakahan yang dianggap pintar.
Dari manusia-manusia yang memilih diam karena takut kehilangan kenyamanan.

Dan mungkin kita semua perlahan ikut menjadi batu.

Melihat ketidakadilan,
tetapi terbiasa.

Mendengar kebohongan,
tetapi lelah bereaksi.

Menyaksikan kerakusan,
tetapi memilih berkata:
“sudah biasa.”

Padahal tidak ada negeri yang benar-benar hancur karena musuh dari luar.

Banyak negeri runtuh karena hati manusianya lebih dulu mengeras.

Karena kepala mereka terlalu penuh oleh diri sendiri,
hingga tidak ada lagi ruang bagi kebijaksanaan untuk tinggal.

Namun barangkali harapan belum sepenuhnya mati.

Sebab di sela pohon tua yang hampir lapuk,
kadang Tuhan masih menumbuhkan tunas kecil yang diam-diam bertahan hidup.

Tunas yang tidak terlalu haus pujian.

Tidak terlalu sibuk ingin menjadi besar.

Dan tidak berjalan dengan kepala penuh kesombongan.

Semoga suatu hari nanti,
anak cucu kita mampu kembali menanam negeri yang lebih tenang.

Negeri yang tidak harus megah,
tetapi manusia-manusianya masih punya hati.

Negeri yang tidak dipenuhi kepala batu.

Tetapi dipenuhi manusia yang tahu cara mendengar,
cara merasa,
dan cara menundukkan dirinya di hadapan Tuhan.