Sembahyang Tanpa Kehilangan Hati
Tidak semua yang rajin beribadah
benar-benar dekat kepada-Nya.
Ada yang menyebut asma-Nya.
Tapi untuk dirinya sendiri.
Ada yang sujud…
tapi hatinya tidak pernah benar-benar hadir.
Ada yang lisannya penuh doa,
namun hidupnya tidak menghadirkan kasih
bagi orang lain.
Dan mungkin…
itulah yang paling menakutkan.
Ketika agama
tinggal menjadi ritual tanpa spiritual.
Tanpa kelembutan.
Tanpa kepedulian.
Kita merasa baik-baik saja
karena masih sembahyang.
Padahal ada hati yang kita abaikan.
Ada lapar yang kita biarkan.
Ada kesedihan yang kita lewatkan
tanpa benar-benar peduli.
Seolah ibadah hanya tentang hubungan kita dengan Allah—
padahal sebagian dari iman
terlihat dari cara kita memperlakukan manusia.
Dan surat ini datang
bukan untuk menghina orang yang jauh dari agama.
Tapi justru untuk mengguncang
mereka yang merasa sudah dekat.
Bahwa sembahyang
tidak seharusnya membuat hati semakin keras.
Bahwa sujud
seharusnya melahirkan kasih.
Dan bahwa orang yang paling rugi
bukan mereka yang tidak terlihat saleh—
tapi mereka yang beribadah…
namun kehilangan hati.