cEMAS

Negeri yang kaya perlahan berubah menjadi cemas. Tentang kesalahan kolektif, kerakusan, kekuasaan, dan manusia-manusia yang diam-diam kehilangan rasa malu untuk berbuat benar. Sebuah refleksi sosial dan spiritual mengenai bangsa yang subur, tetapi perlahan retak dari dalam dirinya sendiri.

cEMAS

Barangkali negeri yang rusak itu bukan karena satu orang.

Ia rusak karena terlalu banyak manusia merasa:
“kesalahan kecilku tidak akan mengubah apa-apa.”

Padahal kerusakan besar sering lahir dari hal-hal kecil yang dilakukan berjamaah.

Dari kebohongan kecil yang ditoleransi.

Dari rasa malas berpikir yang diwariskan.

Dari manusia-manusia yang tahu sesuatu salah,
tetapi memilih diam karena merasa itu bukan urusannya.

Dan perlahan,
kesalahan-kesalahan kecil itu saling bertemu.

Berkumpul seperti anak-anak sungai.

Lalu berubah menjadi banjir besar yang akhirnya menghanyutkan negeri itu sendiri.

Kita sering lupa:
tidak ada kerusakan yang benar-benar berdiri sendiri.

Ia selalu menjadi rangkaian panjang sebab dan akibat.

Satu suara di bilik pemilu,
misalnya,
mungkin terlihat sederhana.

Hanya satu tusukan kecil di kertas suara.

Tetapi dari sana bisa lahir:
aturan,
kebijakan,
rakusnya tambang,
hutan yang ditebang,
sungai yang mati,
harga pangan,
pendidikan yang kehilangan arah,
dan generasi yang tumbuh tanpa masa depan yang utuh.

Segalanya saling terhubung.

Dan ironisnya,
manusia modern terlalu sering merasa dirinya terpisah dari akibat yang lahir dari pilihannya sendiri.

Padahal setiap keputusan,
sekecil apa pun,
diam-diam sedang menyusun masa depan.

Kita semua pernah salah.

Dan mungkin yang paling jujur adalah mengakui:
negeri ini bukan hanya rusak karena mereka.

Tetapi juga karena kita.

Karena terlalu lama hidup sebagai kumpulan ego-ego kecil.

Ego pribadi.
Ego kelompok.
Ego golongan.

Semua ingin menang sendiri.

Semua merasa paling benar.

Semua ingin didengar.

Tetapi sedikit sekali yang benar-benar mau memikirkan:
apa yang akan diwariskan kepada anak cucunya nanti.

Hari ini manusia seperti sibuk membangun rumah megah,
sementara diam-diam membakar tanah tempat rumah itu berdiri.

Kita menyebutnya pembangunan.

Padahal sebagian hanyalah percepatan menuju kerusakan yang dibuat terlihat indah.

Dan mungkin yang paling menyedihkan:
semua itu sebenarnya dilakukan secara sadar.

Kita tahu banyak yang salah.

Tahu hutan rusak.
Tahu sungai tercemar.
Tahu pendidikan kehilangan ruh.
Tahu politik dipenuhi kepentingan.

Tetapi manusia terlalu pandai mencari pembenaran agar tetap bisa tidur nyenyak.

Karena mengakui kesalahan bersama jauh lebih menyakitkan daripada menunjuk kambing hitam.

Negeri ini sudah melewati sejarah panjang.

Penjajahan.
Pengkhianatan.
Kerusuhan.
Kelaparan.
Kebohongan.
Dan pergantian manusia-manusia yang datang membawa janji baru dengan wajah lama.

Tetapi anehnya,
sejarah pahit tidak selalu membuat manusia belajar.

Kadang ia hanya berubah menjadi cerita pidato setiap tahun,
tanpa benar-benar masuk ke dalam kesadaran.

Dan mungkin masalah terbesar negeri ini bukan kekurangan orang pintar.

Tetapi kehilangan jiwa ksatria.

Manusia yang berani jujur.
Berani mengakui salah.
Berani kalah demi kebenaran.
Berani menahan dirinya sendiri ketika memiliki kuasa.

Karena tanpa jiwa itu,
bangsa sebesar apa pun perlahan hanya akan menjadi kerumunan manusia yang sibuk berebut sisa meja makan sejarah.

Lalu saling menyalahkan,
sementara rumahnya sendiri perlahan runtuh dari dalam.

---- oOOo ------

Benar,
manusia memang butuh hidup.

Butuh makan.
Butuh rumah.
Butuh bertahan.

Tetapi entah sejak kapan,
banyak manusia mulai merasa hidupnya hanya bisa tumbuh
dengan memakan hidup manusia lain.

Kita malu berebut piring dengan pengemis di pinggir jalan.

Tetapi tidak malu berebut potongan proyek di ruangan ber-AC.

Tidak malu ketika bentuknya:
amplop,
bingkisan dolar,
jatah kursi,
atau tanda tangan yang diam-diam menggadaikan masa depan banyak orang.

Dan ironisnya,
semua dilakukan sambil tetap berbicara tentang moral,
agama,
dan pengabdian.

Sudah terlalu lama negeri ini hidup di dalam kubangan sempit.

Kubangan kepentingan.

Kubangan ego.

Kubangan manusia-manusia yang terlalu sibuk menyelamatkan dirinya sendiri,
sampai lupa bahwa sebuah bangsa tidak dibangun sendirian.

Rakyat kecil diadu domba agar terus sibuk bertahan hidup.

Dibuat lelah.

Dibuat takut.

Dibuat saling curiga satu sama lain.

Karena manusia lapar lebih mudah diarahkan daripada manusia sadar.

Sementara generasi mudanya digiring masuk ke dunia instan.

Instan terkenal.
Instan kaya.
Instan viral.
Instan sukses.

Mereka diajarkan cara tampil,
tetapi tidak diajarkan cara bertahan sebagai manusia.

Imajinasi mereka dipenuhi lampu kota,
tetapi batinnya perlahan kosong.

Dan di tengah semua itu,
aku hanya manusia kecil yang diam-diam sedang malu kepada Tuhan.

Karena sebenarnya tidak ada yang kurang dari negeri ini.

Tanahnya subur.

Lautnya luas.

Gunungnya berdiri seperti doa panjang yang menjaga langit.

Hujannya cukup.

Mataharinya hangat.

Isi perut buminya melimpah.

Tetapi mungkin justru kelimpahan itulah yang perlahan membutakan kita.

Yang melimpah membuat manusia serakah.

Yang subur membuat manusia takabur.

Yang mudah membuat manusia lemah.

Kita terlalu lama hidup nyaman,
sampai lupa caranya bersyukur dengan benar.

Lalu emas berubah menjadi cemas.

Pertumbuhan berubah menjadi kerusakan.

Pembangunan berdiri tinggi,
sementara jiwa manusianya runtuh diam-diam.

Gedung bertambah.
Jalan diperlebar.
Angka ekonomi dipamerkan.

Tetapi hati manusia semakin sempit.

Dan mungkin itulah ironi paling menyakitkan dari zaman ini:

negeri yang kaya raya,
tetapi manusia-manusianya kehilangan rasa cukup.

Semua ingin lebih.

Lebih besar.
Lebih kaya.
Lebih berkuasa.

Sampai lupa:
bahkan kerakusan pun ada titik di mana ia mulai memakan bangsanya sendiri.

Dan mungkin suatu hari nanti,
anak cucu kita akan bertanya:

“Bagaimana negeri sekaya itu bisa kehilangan jiwanya?”

Dan mungkin sebelum sibuk mengutuk gelapnya negeri ini,

kita perlu bertanya pelan kepada diri sendiri:

berapa banyak bagian dari kegelapan itu yang diam-diam hidup di dalam diri kita sendiri?