Jejak Ayat di Hati
Tadabbur Surah Al-Fatihah dalam bentuk reflektif. Tentang kembali kepada-Nya, mencari arah, dan memahami kelemahan diri
Segala sesuatu dimulai dengan nama-Nya.
Seolah sejak awal hidup diingatkan—
bahwa kita tidak pernah benar-benar memulai sendirian.
Ada Yang mendahului langkah kita.
Ada Yang mengiringi,
bahkan sebelum kita sadar berjalan.
Segala puji milik-Nya,
Pengasuh seluruh semesta.
Dan perlahan kita diajak melihat—
bahwa semua yang kita kagumi
pada akhirnya kembali kepada-Nya.
Namun hidup bukan hanya tentang kagum.
Ada hari
di mana semua akan dipertanggungjawabkan.
Hari ketika tidak ada yang bisa diandalkan
kecuali hubungan kita dengan-Nya.
Dia—
yang mengasihi tanpa menunggu kita meminta,
yang tetap menyayangi,
bahkan saat kita lupa.
Dan di hadapan itu semua,
kita mengaku—
bahwa kita lemah.
Bahwa kita butuh arah.
Bahwa kita tidak cukup kuat berjalan sendiri.
Maka kepada-Nya kita meminta.
Bukan sekadar jalan…
tapi jalan yang lurus.
Bukan sekadar lurus…
tapi jalan yang telah dilalui
oleh mereka yang benar-benar sampai kepada-Nya.
Karena tersesat
tidak selalu terasa salah.
Dan kebenaran
tidak selalu terasa nyaman.
Maka tunjukkanlah kami jalan itu, Ya Allah—
jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat,
bukan jalan mereka yang Engkau murkai,
dan bukan pula jalan mereka yang tersesat.