BERHALA MODERN

BERHALA MODERN

Dulu manusia menyembah patung dari batu.

Hari ini bentuknya lebih modern.

Memakai jas.
Naik mobil hitam.
Berbicara tentang rakyat sambil dikawal ketat.

Dan anehnya,
masih banyak manusia rela menundukkan dirinya di hadapan sesama manusia,
demi:
jabatan,
akses,
proyek,
atau sekadar remah-remah kekuasaan.

Lingkaran kekuasaan memang tempat yang hangat.

Di sana banyak manusia tiba-tiba tertawa terlalu keras pada lelucon yang tidak lucu.

Tiba-tiba kagum pada pidato kosong.

Tiba-tiba merasa pemimpinnya selalu benar,
bahkan ketika jelas-jelas sedang salah arah.

Mungkin karena perut manusia kadang lebih mudah tunduk daripada nuraninya.

Hari ini penjilat berkembang biak lebih cepat daripada pemikir.

Mereka tidak butuh prinsip.

Cukup radar:
siapa yang sedang berkuasa.

Lalu berbondong-bondong mendekat seperti lalat menemukan lampu warung malam hari.

Dan lucunya,
mereka sering mengatasnamakan loyalitas.

Padahal yang dijaga bukan kebenaran.

Tetapi sumber kenyamanan.

Mereka membela manusia seperti membela Tuhan.

Mengutip kata-kata pemimpin seperti ayat suci.

Marah ketika idolanya dikritik.

Dan perlahan tanpa sadar,
mereka sedang membangun berhala baru di dalam kepalanya sendiri.

Berhala baru berbentuk:

jabatan,
uang,
popularitas,
atau manusia yang terlalu diagungkan.

Sampai-sampai kebenaran diukur bukan dari benar atau salahnya,
tetapi:
“siapa yang bicara.”

Ironisnya,
semakin dekat manusia dengan kekuasaan,
semakin sering ia lupa dirinya hanya hamba.

Kekuasaan itu seperti lampu panggung.
Terlalu lama terkena sorotnya,
manusia mulai lupa bahwa dirinya hanyalah pemeran sementara.

Dan seperti biasa,
lingkaran kekuasaan selalu penuh manusia yang siap berkata:
“siap, bos”
bahkan ketika kapal sedang menuju karang.

Karena di negeri ini,
kadang kejujuran lebih berbahaya daripada kebodohan.

Maka jangan heran jika banyak manusia memilih menjadi gema.

Mengulang apa yang ingin didengar penguasa.

Bukan mengatakan apa yang sebenarnya perlu didengar.

Dan di tengah semua itu,
Tuhan perlahan dipindahkan ke posisi cadangan.

Disebut dalam pidato.

Dipakai dalam slogan.

Tetapi tidak benar-benar dihadirkan dalam keputusan dan perilaku.

Mungkin itulah bentuk penyembahan berhala paling modern:

ketika manusia terlalu takut kehilangan manusia lain,
tetapi tidak lagi takut kehilangan Tuhannya sendiri.

Dan pada akhirnya,
semua manusia yang terlalu sibuk dipuji dunia
tetap akan pulang ke tempat yang sunyi.

Tanpa pengawal.
Tanpa tepuk tangan.
Tanpa kursi.

Hanya ditemani:
apa yang pernah ia lakukan ketika masih merasa paling berkuasa.