Sederhana Saja

Tetaplah sederhana. Sebab sebagian ketenangan hanya datang kepada manusia yang tidak sibuk menjadi siapa-siapa.

Sederhana Saja

Langit tidak retak hanya karena nama kita tidak dikenal.
Matahari tidak terlambat terbit hanya karena hidup kita belum berhasil.
Semesta tidak sibuk menghitung siapa yang paling dipuji manusia.

Ia tetap berjalan dalam sunyinya sendiri.

Hujan tetap jatuh ke tanah yang sama.
Angin tetap melewati daun-daun yang tidak pernah meminta tepuk tangan.
Burung tetap pulang ke sarangnya tanpa perlu membuktikan dirinya lebih hebat dari burung lain.

Barangkali semesta hanya menitipkan satu pesan sederhana kepada manusia:

jangan merusak hidup.

Syukur jika mampu ikut merawat.
Syukur jika mampu memperindah walau hanya sedikit.

Tidak apa-apa jika kita tidak menjadi siapa-siapa.

Karena hidup mungkin memang bukan perlombaan untuk menjadi apa dan siap.

Bukankah pohon yang paling banyak buahnya justru sering menunduk lebih rendah?

Manusia hari ini terlalu lelah mengejar bentuk-bentuk pengakuan.

Padahal banyak yang akhirnya kehilangan dirinya sendiri di tengah perjalanan.

Kita diajarkan menjadi sesuatu,
tetapi jarang diajarkan bagaimana menjadi manusia.

Akhirnya hidup berubah seperti pasar besar:
semua sibuk menawarkan dirinya,
semua ingin terlihat berhasil,
semua takut dianggap biasa.

Padahal tidak ada yang salah dengan menjadi biasa.

Tidak semua manusia harus menjadi cahaya besar di langit.

Sebagian cukup menjadi lampu kecil di rumahnya sendiri.

Menghangatkan anak-anaknya.
Menenangkan pasangannya.
Menjadi alasan orang tuanya tetap tersenyum.

Dan itu pun sudah mulia.

Hidup mungkin hanyalah perjalanan sunyi untuk menyelaraskan diri dengan kehidupan.

Belajar menerima bahwa:
tidak semua hal bisa dimiliki,
tidak semua hal harus dikejar,
dan tidak semua kehilangan berarti kegagalan.

Sedih seperlunya.
Senang seperlunya.

Karena terlalu larut dalam kesedihan membuat manusia lupa bersyukur.
Terlalu mabuk dalam kebahagiaan membuat manusia lupa pulang.

Waspada, tetapi tidak hidup dalam ketakutan.

Sebab sebagian manusia mati jauh sebelum ajal datang:
mereka habis dimakan kekhawatiran yang mereka pelihara sendiri.

Dan bukankah hidup memang tidak pernah benar-benar meminta kita menjadi siapa-siapa?

Ia hanya meminta kita menjalani bagian kita dengan baik.

Menyelesaikan tanggung jawab.
Menjaga amanah.
Tidak melukai terlalu banyak hati.
Dan tetap menjadi manusia yang lembut meski dunia sering berlaku kasar.

Tidak perlu memahami seluruh isi dunia.

Samudra terlalu luas untuk diminum sendirian.

Terkadang mengetahui batas diri justru bentuk kedewasaan yang paling jarang dimiliki manusia.

Karena ego sering menyamar sebagai ambisi.

Dan ambisi yang tidak dijaga perlahan mengubah manusia menjadi asing bagi dirinya sendiri.

Maka pahamilah dirimu pelan-pelan.

Mana kebutuhan.
Mana keserakahan.
Mana luka yang benar-benar harus disembuhkan.
Mana keinginan yang hanya lahir karena ingin terlihat lebih hebat dari orang lain.

Tidak perlu terlalu banyak memungut filsafat hidup.

Ambillah yang membuat hatimu lebih dekat kepada Tuhan.

Lebih dekat kepada ketenangan.

Karena ilmu yang tidak membuat manusia lebih tenang kadang hanya menjadi kebisingan baru di dalam kepala.

Dan kebijaksanaan sering kali lahir bukan dari hal-hal besar.

Kadang ia tinggal diam di tempat-tempat sederhana:
di dapur ibu,
di perjalanan panjang,
di tangan petani,
di sajadah malam,
atau di kalimat-kalimat kecil yang dulu diajarkan saat pramuka.

Nilai sederhana yang benar-benar hidup jauh lebih mulia daripada kata-kata tinggi yang hanya pandai dipajang di mulut.

Pada akhirnya hidup bukan tentang seberapa tinggi manusia berdiri.

Tetapi tentang:
setelah semua keramaian dunia selesai,
apakah hati kita masih tahu cara duduk tenang di hadapan Tuhan.

Tetaplah sederhana.
Sebab sebagian ketenangan hanya datang kepada manusia yang tidak sibuk menjadi siapa-siapa.