MANUSIA DAN KEINGINAN YANG TIDAK SELESAI

Sebuah perenungan tentang arah hidup, kesadaran, ambisi, dan kebutuhan manusia untuk tetap berakar di tengah zaman yang terus berubah.

MANUSIA DAN KEINGINAN YANG TIDAK SELESAI

Manusia-manusia hari ini hidup di tengah keramaian yang tidak pernah benar-benar tidur.

Pagi hari dimulai oleh bunyi alarm,
lalu berlanjut dengan layar,
notifikasi,
angka,
target,
dan lalu lintas yang bergerak seperti arus sungai tanpa henti.

Matahari terbit setiap hari,
tetapi banyak manusia tidak sempat menyapanya.

Mereka terlalu sibuk mengejar jam kerja. Karena terlambat bisa jadi dipecat.

Langit malam menggantung bersama rembulan,
tetapi manusia modern melewatinya begitu saja seperti papan reklame di pinggir jalan.

Tidak ada jeda.

Tidak ada ruang kosong.

Kepala dipenuhi:
keinginan,
target,
ketakutan,
dan perlombaan-perlombaan kecil yang tidak pernah selesai.

Cepat selesai.
Cepat berhasil.
Cepat kaya.
Cepat dikenal.

Seolah hidup adalah lomba panjang yang membuat manusia takut terlambat satu langkah saja.

Maka dunia dipenuhi manusia yang terus bergerak,
tetapi tidak benar-benar tahu ke mana arah jiwanya berjalan.

Mereka lupa menikmati:
bau tanah setelah hujan,
suara burung di pagi hari,
hangat teh panas di dapur rumah,
atau wajah orang tua yang perlahan menua setiap tahun.

Padahal kehidupan sering hadir justru lewat hal-hal kecil yang tidak ramai dipamerkan dunia.

Di zaman ini,
manusia terlalu keras mengukur hidup dengan hasil.

“Apa yang sudah jadi?”

“Kapan sukses?”

“Teman-temanku sudah menjadi ini dan itu.”

Kalimat-kalimat itu tumbuh seperti gulma di kepala manusia modern.

Lalu perlahan hidup berubah menjadi ruang perlombaan yang melelahkan.

Orang-orang mulai membandingkan perjalanan hidupnya sendiri dengan potongan hidup orang lain yang telah dipoles sempurna di layar.

Padahal banyak hal besar lahir dari fase-fase yang tidak indah dipandang.

Fase mengendap.
Fase bingung.
Fase sepi.
Fase ketika hidup terasa belum memiliki bentuk yang jelas.

Di situlah sebenarnya akar manusia sedang tumbuh.

Pohon tidak sibuk menjelaskan pertumbuhannya kepada dunia.

Akar bekerja dalam gelap.

Diam.

Tidak dipuji.

Tidak dilihat siapa-siapa.

Tetapi justru di sanalah kekuatan hidup dibangun.

Manusia modern terlalu takut pada keterlambatan.

Padahal tidak semua yang tumbuh pelan sedang tertinggal.

Ada manusia yang memang sedang disiapkan waktu melalui proses yang panjang.

Dibentuk oleh:
kegagalan,
kesepian,
keraguan,
dan jalan hidup yang tidak lurus.

Orang jawa mengenal laku:
alon-alon waton kelakon.

Pelan bukan berarti lemah.

Pelan adalah cara menjaga kesadaran agar langkah tidak kehilangan arah.

Sebab hidup yang terlalu tergesa sering membuat manusia sampai lebih cepat,
tetapi dengan jiwa yang tertinggal jauh di belakangnya sendiri.

Dan usia memang berjalan.

Energi perlahan berkurang.

Waktu tidak pernah benar-benar menunggu siapa pun.

Karena itu manusia membutuhkan arah.

Bukan sekadar ambisi.

Tanpa kerangka hidup,
pikiran mudah dipenuhi keinginan-keinginan liar yang terus berubah mengikuti dunia.

Hari ini ingin ini.
Besok ingin itu.
Lusa merasa kosong lagi.

Lalu hidup habis hanya untuk mengejar bayangan-bayangan yang bahkan tidak benar-benar dipahami untuk apa.

Padahal menjadi versi terbaik diri tidak selalu berarti:
lebih kaya,
lebih terkenal,
atau lebih megah daripada orang lain.

Banyak manusia tampak mewah,
tetapi hidup di dalam angan-angan kosong.

Banyak manusia terlihat berhasil,
tetapi batinnya runtuh diam-diam setiap malam.

Karena ketika hidup kehilangan arah,
manusia mulai mencari jalan cepat.

Instan.

Praktis.

Tanpa proses.

Dan dari situlah banyak kehancuran lahir.

Manusia mulai menghalalkan banyak hal demi mengejar hasil:
berbohong,
mengkhianati amanah,
mempermainkan kepercayaan,
dan menjual nuraninya sendiri sedikit demi sedikit.

Padahal ketidakjujuran selalu meninggalkan luka di dalam jiwa.

Amanah yang dikhianati tidak pernah benar-benar hilang.

Ia tinggal sebagai beban panjang dalam batin manusia.

Dan hidup yang dijalani tanpa kesungguhan,
perlahan berubah menjadi penyesalan yang mengikuti langkahnya sendiri.

Karena jauh di dalam dirinya,
manusia sebenarnya tahu ketika ia sedang mengkhianati dirinya sendiri.

Akal mungkin mampu membuat pembenaran.

Tetapi hati selalu menyimpan suara yang tidak bisa sepenuhnya dibungkam.

Di situlah manusia modern sering kelelahan.

Bukan hanya karena bekerja terlalu keras.

Melainkan karena terlalu lama hidup jauh dari dirinya sendiri.

Terlalu ramai di luar,
tetapi terlalu sunyi di dalam.

Dan barangkali,
yang paling dibutuhkan manusia hari ini bukan tambahan motivasi.

Melainkan ruang untuk bernapas.

Ruang untuk duduk sebentar.

Ruang untuk kembali mendengar:
suara hati,
arah hidup,
dan langkah kecil yang sebenarnya ingin ditempuh jiwanya sejak lama.

Karena dunia akan terus bergerak cepat.

Tetapi tidak semua manusia harus kehilangan dirinya demi ikut berlari bersamanya.

Zaman memang bergerak sangat cepat.

Industri 4.0.
Society 5.0.
Artificial Intelligence.
Automasi.
Algoritma.
Dan manusia bahkan mulai berbicara tentang dunia menuju industri 6.0.

Peradaban berubah begitu cepat,
seolah dunia tidak lagi memberi ruang bagi manusia untuk berjalan pelan.

Tetapi di balik seluruh perubahan itu,
ada satu hal yang sebenarnya tidak pernah benar-benar berubah:
ruh manusia.

Kebutuhan terdalam manusia tetap sama sejak ribuan tahun lalu.

Tetap ingin dicintai.
Tetap ingin tenang.
Tetap ingin merasa berarti.
Tetap ingin pulang ke tempat yang membuat jiwanya damai.

Karena secanggih apa pun zaman,
manusia tetap tidur dengan hati yang sama.

Tetap menangis dengan luka yang sama.

Tetap mencari makna di balik hidup yang terus bergerak.

Yang berubah hanya bentuk luarnya.

Dulu manusia mengejar makanan dan tempat berteduh.

Hari ini manusia mengejar citra,
status,
pengakuan,
dan validasi yang tidak pernah selesai.

Papan,
sandang,
dan pangan sebenarnya masih menjadi kebutuhan dasar.

Tetapi dunia modern mengubahnya menjadi perlombaan tanpa ujung.

Rumah tidak lagi sekadar tempat tinggal,
tetapi simbol gengsi.

Pakaian tidak lagi sekadar pelindung tubuh,
tetapi identitas sosial.

Makanan tidak lagi sekadar kebutuhan,
tetapi bagian dari pertunjukan gaya hidup.

Dan perlahan manusia mulai sulit membedakan:
mana kebutuhan,
mana keinginan,
dan mana kekosongan batin yang sedang mencoba diisi dengan benda-benda dunia.

Maka lahirlah zaman yang penuh kelimpahan,
tetapi juga penuh kecemasan.

Karena keinginan manusia modern bekerja seperti api.

Semakin diberi,
semakin membesar.

Tidak pernah benar-benar selesai.

Filsafat Jawa mengenal istilah:
“nrimo ing pandum.”

Bukan menyerah pada hidup.

Melainkan kemampuan menjaga batin agar tidak terus diperbudak oleh keinginan yang tidak memiliki dasar akhir.

Karena manusia yang terus mengejar semua hal,
sering kali justru kehilangan dirinya sendiri di tengah perjalanan.

Dan di zaman seperti ini,
tanpa kesiapan diri,
manusia sangat mudah terombang-ambing.

Hari ini ikut tren ini.
Besok ikut tren itu.
Hari ini mengejar satu impian.
Besok merasa kosong lagi.

Karena dunia modern sangat pandai membuat manusia terus merasa kurang.

Kurang kaya.
Kurang sukses.
Kurang menarik.
Kurang cepat.
Kurang bahagia.

Padahal banyak manusia sebenarnya tidak sedang kekurangan kehidupan.

Mereka hanya terlalu lama hidup di dalam perbandingan.

Dan ketika manusia terus hidup mengejar dunia luar,
tetapi tidak pernah membangun kedalaman dirinya,
jiwanya perlahan menjadi rapuh.

Sedikit kegagalan membuatnya runtuh.

Sedikit penolakan membuatnya kehilangan arah.

Sedikit keterlambatan membuatnya merasa tertinggal dari seluruh dunia.

Padahal pohon besar tidak tumbuh karena sibuk melihat pohon lain.

Ia tumbuh karena akarnya masuk lebih dalam ke tanah.

Begitu juga manusia.

Di zaman yang bergerak terlalu cepat ini,
yang paling dibutuhkan bukan hanya kecepatan berpikir.

Tetapi kedalaman jiwa.

Karena manusia yang memiliki kedalaman,
tidak mudah hanyut oleh keramaian zaman.

Ia tetap mampu berjalan tenang,
meski dunia di sekelilingnya terus berlari tanpa arah.