Pejalan Sunyi
Seri Pertama
Tidak semua perjalanan perlu suara.
Sebagian justru tumbuh
dalam sunyi.
Tanpa tepuk tangan.
Tanpa pengakuan.
Hanya sibuk menemukan
nikmat-nikmat yang Tuhan beri.
Meraba,
menapaki jalan
yang ditunjukkan-Nya.
Menemukan keindahan
dari hal-hal yang sederhana.
Menyingkap tabir,
membuka yang selama ini tertutup.
Mengabdi dalam diam,
sebagai pejalan sunyi—
seorang hamba.
Mengingat
dalam setiap tarikan napas.
Namun kita,
terlalu lama terkurung
dalam dikotomi.
Dunia—akhirat.
Bumi—langit.
Seolah
mandi dan mencuci piring
hanya urusan dunia.
Sementara akhirat
hanya tentang ibadah
dan membaca firman-Nya.
Padahal,
tidak ada akhirat
tanpa dunia.
Tidak ada langit
tanpa bumi.
Apa pun yang kita lakukan hari ini,
adalah bagian dari keabadian.
Yang kita bawa
menuju perjumpaan dengan-Nya.
Tidak ada pilihan
antara dunia dan akhirat.
Keduanya
satu perjalanan yang utuh.
Yang terus kita jalani,
bahkan ketika kita
tidak menyadarinya.