Manusia Kecil Berhati Besar
Tentang negeri yang kehilangan rasa cukup, dan manusia-manusia kecil yang masih menjaga harapan.
Di sudut jalan yang ramai, seorang lelaki tua mendorong gerobak pelan-pelan. Punggungnya sedikit membungkuk.
Tangannya kasar.
Kaosnya mulai pudar dimakan matahari dan debu jalanan.
Di kota yang sibuk mengejar pertumbuhan, lelaki seperti itu sering terlihat seperti bagian dari pemandangan.
Dilihat sebentar. Lalu dilupakan.
Padahal mungkin dari gerobak kecil itulah satu keluarga bertahan hidup. Pagi-pagi sekali ia sudah keluar rumah. Saat sebagian orang masih tidur dalam pendingin ruangan, ia sudah memanaskan air, menata dagangan, lalu berjalan menembus jalanan yang semakin mahal bagi orang kecil.
Harga beras naik sedikit.
Minyak naik sedikit.
Gas naik sedikit.
Sewa naik sedikit.
Di negeri ini, hidup memang jarang langsung runtuh sekaligus. Ia melemah perlahan. Seperti tali tua yang seratnya putus satu per satu.
Namun anehnya, orang-orang kecil justru sering memiliki hati yang besar. Mereka tetap berbagi meski hidup pas-pasan. Tetap memberi hutang di warung meski dirinya sendiri belum tentu cukup. Tetap tersenyum kepada pelanggan.Tetap membantu tetangga yang kesusahan.
Barangkali karena mereka tahu rasanya hidup tanpa banyak pegangan. Sedangkan sebagian manusia yang hidupnya sudah penuh justru semakin takut kehilangan.
Dan mungkin negeri ini bukan hanya sedang mengalami krisis ekonomi. Mungkin kita sedang mengalami krisis rasa cukup. Sebab kerakusan tidak selalu terlihat seperti pencurian besar.
Kadang ia hidup dalam bentuk yang lebih sopan:
manusia yang terus mengambil meski sudah berlebihan,
manusia yang terus menumpuk meski orang lain mulai kekurangan,
manusia yang kenyang tetapi tetap rakus.
Lalu kita heran mengapa bangsa yang kaya justru dipenuhi kecemasan.
Di televisi, ekonomi tumbuh. Di jalanan, manusia mengecilkan mimpinya sedikit demi sedikit.
Tetapi di tengah semua itu, orang-orang kecil tetap menjalani hidup dengan cara yang kadang membuat malu banyak manusia besar.
Mereka tetap bekerja.
Tetap berusaha jujur.
Tetap beribadah di sela lelah.
Tetap pulang membawa gorengan untuk anak-anaknya sambil berkata: “Alhamdulillah, hari ini dapat sedikit.”
Betapa besar hati manusia yang masih merasa bersalah karena belum bisa memberi lebih, padahal hidup sudah begitu keras kepadanya.
Dan mungkin bangsa ini sebenarnya masih bertahan bukan karena pidato-pidato besar. Tetapi karena ada jutaan manusia kecil yang diam-diam tetap memilih menjadi baik.
Pedagang kecil yang tidak mengurangi timbangan.
Ibu warung yang masih memberi hutang tetangganya.
Guru honorer yang tetap mengajar meski hidupnya sendiri belum layak.
Petani yang terus menanam meski harga panen sering menjatuhkan.
Mereka tidak masuk berita.
Tidak tampil di panggung.
Tidak punya pengawal.
Tetapi dari tangan merekalah negeri ini sebenarnya masih bernapas. Hari ini kita terlalu sering mengira manusia besar adalah mereka yang paling terkenal. Padahal mungkin manusia besar justru adalah mereka yang tetap menjaga hati di tengah hidup yang sulit.
Karena tidak mudah menjadi lembut ketika dunia terasa keras. Tidak mudah tetap jujur ketika kebohongan terasa lebih menguntungkan. Tidak mudah tetap peduli ketika hidup sendiri sedang penuh beban.
Namun orang-orang kecil itu tetap melakukannya.
Dan mungkin Tuhan memang sering menitipkan kemuliaan pada manusia-manusia yang tidak terlalu sibuk terlihat hebat.
Mereka hidup sederhana. Tetapi dari hati merekalah dunia masih menyimpan harapan.
Bukan hanya rakyat yang lapar. Barangkali bangsa ini sedang kehilangan rasa cukup. Kita hidup di negeri yang tanahnya subur, lautnya luas, gunungnya menyimpan isi bumi yang tak habis disebut satu per satu. Tetapi anehnya, semakin banyak yang diambil dari bumi, semakin banyak manusia hidup dengan cemas.
Seolah kekayaan hanya berpindah dari tanah ke angka-angka, tanpa benar-benar berubah menjadi ketenangan bagi rakyatnya.
Dan mungkin masalah terbesar negeri ini bukan sekadar kurangnya Keadilan. Melainkan manusia yang tidak pernah selesai dengan keinginannya sendiri.
Bukan hanya pejabat yang rakus. Mungkin kita semua sedang hilang kendali, bangsa yang perlahan sedang belajar hidup tanpa rasa malu.
Malu dulu adalah sesuatu yang menjaga manusia tetap waras.
Malu mengambil yang bukan haknya.
Malu berjanji lalu mengingkari.
Malu hidup mewah di tengah rakyat yang susah.
Malu memamerkan kemewahan saat banyak manusia bahkan takut membuka dompetnya sendiri.
Tetapi sekarang, banyak hal dipertontonkan tanpa rasa bersalah.
Kekayaan dipamerkan seperti kemenangan.
Kesederhanaan dianggap kegagalan.
Kejujuran dianggap terlalu polos untuk bertahan hidup.
Kita terlalu sering melihat penderitaan sampai akhirnya terbiasa dengannya.
Anak anak kecil di lampu merah menjadi pemandangan biasa.
Orang tua tidur di emperan toko menjadi bagian kota.
Berita korupsi lewat seperti cuaca sore hari: sebentar marah, lalu hilang lagi.
Karena besok pasti ada lagi.
Padahal tidak ada bangsa yang benar-benar sehat ketika penderitaan sudah tidak lagi membuat manusianya terganggu.
Negeri ini bukan miskin sumber daya. Ia hanya terlalu lama dipimpin oleh manusia yang kenyang, tetapi tidak pernah merasa cukup.
Dan mungkin lebih menyedihkan lagi:
rakyat kecil sering dipaksa belajar hidup sabar,
sementara kerakusan di atas sana terus diberi ruang tumbuh tanpa malu.
Di layar televisi ekonomi tumbuh.
Grafik naik.
Angka diumumkan dengan tenang.
Istilah-istilah besar diucapkan seperti mantra yang harus dipercaya semua orang.
Tetapi di meja makan, lauk dipotong lebih kecil.
Ibu-ibu mulai berkata:
“yang penting semua kebagian.”
Ayah-ayah diam lebih lama saat menghitung pengeluaran.
Anak muda menunda menikah bukan karena tidak ingin membangun keluarga,
tetapi karena hidup terasa semakin mahal untuk sekadar bertahan.
Mereka menyebutnya pertumbuhan.
Rakyat menyebutnya:
bertahan hidup.
Dan ironisnya, manusia kecil sering tetap menjadi pihak yang paling mengerti cara bersyukur.
Mereka masih berbagi makanan meski sedikit.
Masih membantu tetangga meski hidupnya sendiri sulit.
Masih percaya Tuhan mendengar doa-doa kecil mereka untuk mendapatkan pemimpin yang Adil dan Beradab.
Sedangkan sebagian manusia yang hidup berlimpah justru semakin takut kehilangan.
Barangkali karena ketenangan memang tidak lahir dari banyaknya yang dimiliki.
Ia lahir dari hati yang tahu kapan harus cukup.
Dan mungkin selama kita terus diajarkan mengejar segalanya tanpa pernah belajar merasa cukup,
kita akan terus hidup di negeri yang kaya—
tetapi manusia-manusianya kelelahan menjaga hidupnya sendiri.
“Negeri ini mungkin belum benar-benar kehilangan harapan. Selama masih ada manusia kecil yang tetap memilih menjadi manusia baik.”