Kita Semua Buruh

Kita Semua Buruh

Buruh.

Kita semua adalah buruh.

Hanya saja,
sering kali kita lupa,

siapa sebenarnya
yang menjadi juragan.

Kita diciptakan sebagai manusia.

Diberi amanah
sebagai khalifah.

Untuk mengelola,
merawat,
dan menjaga
apa yang telah dititipkan.

Bumi ini
bukan sekadar tempat tinggal.

Ia adalah ruang
yang harus kita rawat.

Diperindah.

Dijaga,
agar tetap layak
untuk kehidupan.

Namun, merawat bumi
bukan hanya tentang tanah dan air.

Tapi juga tentang manusia
yang hidup di dalamnya.

Cara kita bersikap.

Cara kita memperlakukan sesama.

Cara kita menjaga
nilai dan rasa.

Bekerja,
menopang keluarga,
menjalankan peran hidup,

bukan sekadar kewajiban.

Itu adalah bagian
dari tugas kita
sebagai buruh
di hadapan Tuhan.

Kita merawat tubuh,
menggunakan akal,
menjaga hati,

dan menjalankan hidup
sebagaimana mestinya.

Namun, di sisi lain,

manusia mulai lupa.

Merasa dirinya juragan.

Menganggap bumi ini miliknya.

Berjalan
dengan membawa kerusakan.

Kadang dengan sadar.

Kadang tanpa sadar,
dibungkus
dengan alasan memperindah.

Dan di situlah,

kita mulai kehilangan arah.

Bekerja,
tapi lupa untuk merawat.

Berjalan,
tapi tanpa menjaga.

Mungkin hari ini,

yang perlu kita ingat
bukan hanya kerja.

Tapi untuk siapa
kita menjalankannya.

Yang kita jalani hari ini,
bukan sekadar pekerjaan.

Tapi amanah,
yang akan kita kembalikan.

Memastikan diri kembali
dengan gelar hamba
dan status khalifah.

Bukan menjadi orang-orang
yang membuat Tuhan murka.