Desa Waktu Itu

Desa Waktu Itu

Cuplikan seri kota tanpa banyak kata kata.

Desa di masa kecil terasa seperti rumput alang-alang yang tersinari matahari pagi.

Sederhana,
liar,
tetapi hidup.

Atau seperti bunga kertas berwarna-warni di halaman rumah:
tidak semewah anggrek,
tidak pula semeriah mawar,
tetapi justru indah karena tumbuh apa adanya bersama udara pegunungan dan musim yang berjalan pelan.

Malam-malam di kota ini dulu tidak ramai.

Ia sepi,
tetapi tidak terasa kosong.

Kesunyian hidup berdampingan dengan suara-suara kecil yang akrab bagi manusia desa pegunungan.

Radio tua memutar gamelan dan wayang semalaman,
menemani orang-orang tua duduk santai selepas isya.

Sebagian melinting tembakau dan cengkeh hasil kebun depan atau belakang rumah,
dengan jemari yang bergerak pelan seperti sudah hafal irama hidup sejak lama.

Di dekatnya,
korek tua digoyang-goyang beberapa kali sebelum menyala,
mengeluarkan api kecil yang memantul di wajah-wajah tenang penuh keriput kehidupan.

Di samping radio,
terbaring senter aluminium besar berisi tiga baterai gemuk,
yang selalu siap dipakai ketika ada suara mencurigakan dari kandang belakang rumah.

Aroma kopi sangrai memenuhi ruang.

Biji-biji kopi disimpan dari panen tahun sebelumnya,
disangrai sederhana dengan tungku dan wajan hitam yang sudah menghitam oleh waktu.

Pahitnya pekat.

Hangatnya pelan.

Dan entah kenapa,
kopi zaman itu terasa lebih hidup dibanding banyak rasa mahal hari ini.

Sementara di sudut rumah,
gerobog padi masih terisi penuh.

Seperti penanda kecil bahwa keluarga masih memiliki cadangan kehidupan untuk melewati musim berikutnya.

Rumah-rumah limasan kayu jati berdiri teduh dengan halaman luas dan udara dingin yang masuk bebas dari sela-sela jendela.

Pendopo di depan menjadi tempat menerima tamu dan bercakap panjang.

Ruang tengah menjadi pusat kehidupan keluarga.

Dan ruang belakang menyimpan dapur,
tungku,
serta aroma kayu bakar yang sulit dipisahkan dari kenangan masa kecil.

Rumah-rumah itu tidak dibangun untuk pamer.

Ia dibangun agar manusia merasa hidup di dalamnya.

Ada ruang untuk angin lewat.

Ada ruang untuk suara hujan terdengar jelas di atas genteng.

Ada ruang bagi anak-anak berlari,
dan orang tua duduk diam memandangi sore tanpa terganggu kebisingan dunia.

Desa desa waktu itu belum dipenuhi cahaya berlebihan.

Langit malam masih cukup gelap untuk melihat bintang.

Dan manusia belum terlalu sibuk mengejar hidup sampai lupa menikmati kehidupan itu sendiri.

Waktu berjalan lebih lambat.

Atau mungkin manusianya saja yang dahulu masih pandai hidup tanpa tergesa-gesa.

Pagi hari di waktu itu selalu dimulai lebih awal daripada matahari benar-benar tinggi.

Udara masih dingin.

Kabut tipis belum sepenuhnya pergi dari kebun dan pematang sawah.

Orang-orang tua mulai sibuk mempersiapkan cangkul,
sabit,
dan pakaian kerja yang lusuh oleh tanah,
keringat,
serta musim-musim panjang yang telah mereka lewati bertahun-tahun.

Baju-baju koyak itu seperti seragam tempur kehidupan.

Tidak rapi.

Tidak mewah.

Tetapi penuh kehormatan bagi manusia-manusia yang hidup dari tanah dan cuaca.

Sementara di dapur belakang rumah,
nenek sudah lebih dahulu bangun sejak langit masih gelap.

Tangannya pelan memetik daun singkong,
rebung,
atau tunas bambu muda dari kebun sekitar rumah untuk dimasak menjadi sayur pagi.

Sesekali matanya memandang pohon nangka di samping rumah,
barangkali ada buah yang mulai matang dan bisa dipetik beberapa hari lagi.

Lalu berjalan perlahan ke bawah pohon kelapa,
mencari buah tua yang jatuh semalam untuk dibawa ke dapur.

Waktu itu hidup terasa dekat sekali dengan tanah.

Tidak banyak yang dibeli dari pasar.

Tidak ada sayur keliling setiap pagi.

Kebutuhan sehari-hari tumbuh dari halaman rumah sendiri.

Kebunnya memang tidak luas.

Tetapi cukup untuk menjaga dapur tetap mengepul dan kehidupan tetap berjalan.

Kadang pagi juga diisi mencari rumput untuk lembu dan kambing.

Embun masih menempel di ujung ilalang,
sementara kaki kecil berjalan mengikuti orang-orang tua menuju sawah.

Dan setelah beberapa seruput kopi panas serta sebatang rokok linting yang perlahan habis di tangan kakek,
langkah-langkah tua itu mulai berjalan ke pematang.

Pelan.

Tenang.

Seperti manusia yang sudah lama memahami bahwa hidup tidak perlu dijalani terburu-buru agar tetap bisa bertahan.

Anak-anak waktu itu tumbuh bersama halaman rumah dan suara hewan ternak.

Ayam,
kuthuk,
bebek,
meri,
berlarian bebas di halaman seperti bagian dari kehidupan sehari-hari yang tidak terpisahkan.

Anak-anak mengejar sambil bercanda,
melempar dedak,
menggoda ayam jago,
atau pura-pura marah ketika induk bebek terlalu galak menjaga anaknya.

Di kepala kecil mereka,
ayam-ayam itu bukan sekadar peliharaan.

Ada harapan kecil yang diam-diam disimpan:
barangkali saat lebaran nanti ada yang dipotong lebih banyak.

Karena makan ayam waktu itu bukan makanan harian.

Ia seperti kemewahan kecil yang datang bersama hari besar dan suara takbir malam.

Kadang anak-anak menunggu bapak atau kakek pulang dari kenduren membawa berkat.

Bungkus daun atau besek kecil yang dibawa hati-hati,
lalu dibuka bersama-sama di rumah dengan rasa senang yang sederhana.

Dan ketika ada ayam dimasak,
potongannya dibagi kecil-kecil agar cukup untuk semua orang di rumah.

Bukan soal kenyang.

Tetapi soal kebersamaan yang membuat makanan terasa lebih nikmat daripada jamuan mahal zaman sekarang.

Hari-hari lain diisi permainan sederhana yang tidak membutuhkan listrik atau layar.

Anak-anak memanjat pohon jambu klutuk,
berebut buah dengan ulat yang sering lebih cepat menemukan mana yang matang.

Buah dimakan di atas pohon sambil tiduran di dahan,
ditemani angin sore dan langit pegunungan yang masih luas tanpa kabel-kabel kota.

Kadang mereka pergi ke tegal dan kebun bambu,
membuat tulup,
tembak-tembakan dari pelepah pisang,
atau mobil-mobilan kecil dari bambu dengan roda kayu kopi yang dipotong bulat sederhana.

Mainannya tidak mahal.

Tetapi imajinasinya luas.

Karena masa kecil waktu itu tidak dibesarkan oleh barang-barang mewah.

Ia dibesarkan oleh:
tanah,
pohon,
hujan,
sawah,
dan kebebasan kecil yang tumbuh bersama alam.

Dan entah kenapa,
kenangan-kenangan sederhana seperti itu tetap terasa hangat sampai hari ini.

Seperti aroma kayu lama yang masih tinggal di dalam ingatan,
meski rumah dan musim telah lama berubah.

Orang-orang tua waktu itu membesarkan anak bukan hanya dengan makanan dan tenaga,
tetapi juga dengan nasihat-nasihat kecil yang terus diulang setiap hari.

Jangan duduk di depan pintu.
Jangan makan bersuara.
Jangan lewat di depan orang tua tanpa merunduk sedikit.
Jangan bicara terlalu keras kepada yang lebih tua.

Sebagian terdengar seperti pamali bagi anak-anak kecil.

Tidak selalu dijelaskan alasannya.

Tetapi semua perlahan tumbuh menjadi cara menghormati kehidupan dan manusia lain.

Sore hari menjadi batas dunia bermain.

“Pulang sebelum bedug.”

Kalimat itu terdengar seperti aturan langit bagi anak-anak kampung waktu itu.

Kalau terlalu larut,
ibu-ibu mulai keluar rumah membawa sabet atau pecut kecil,
membubarkan permainan dengan wajah setengah marah setengah cemas.

Anak-anak berlarian kalang kabut.

Sebagian menangis.

Sebagian masih tertawa sambil menghindar.

Dan di usia kecil seperti itu,
rasanya ingin cepat dewasa agar bebas pergi ke mana saja tanpa dimarahi siapa pun.

Padahal kelak setelah dewasa,
manusia justru sering rindu dimarahi untuk segera pulang.

Malam tiba perlahan bersama udara dingin pegunungan.

Ibu mulai menyalakan tungku di dapur.

Api kayu terdengar retak kecil,
menghangatkan ruang belakang rumah yang mulai gelap.

Sementara anak-anak naik ke atas dipan kayu,
masuk ke balik kelambu putih yang menggantung sederhana sebagai pelindung nyamuk.

Senthir dan lampu minyak mulai dinyalakan.

Cahayanya kecil,
temaram,
bergoyang pelan tertiup angin malam dari sela-sela rumah kayu.

Tidak ada permainan malam seperti hari ini.

Tidak ada layar yang menyala sampai larut.

Malam diisi oleh suara manusia.

Cerita orang-orang tua yang saling bersahut dari ruang tengah.

Tentang sawah.
Tentang panen.
Tentang tetangga.
Tentang wayang.
Tentang kehidupan yang berjalan sederhana tetapi terasa dekat satu sama lain.

Dan anak-anak kecil perlahan tertidur di balik kelambu,
ditemani suara tungku,
percakapan orang tua,
dan dingin malam didesa yang turun pelan di luar rumah.