"Emergence" Dicetak atau Kapasitas Adaptasi

"Emergence" Dicetak atau Kapasitas Adaptasi

Image by Johnhain from Pixabay

SM Damar Panuluh

Founder of symbolic.id.

Pecinta teka-teki Observable World.

 

Berselancar di dunia ide, imajinasi.

Katakanlah suatu hari saya ingin punya motor terbaik di dunia. Di dalam dunia imaji itu, uang bukanlah masalah. Apapun yang saya inginkan bisa saya beli. Hanya detail cara mencapai keinginan yang harus dipikirkan sendiri.

Seperti biasa, kita lakukan analisis terlebih dahulu. Sebentuk alat transportasi yang bernama motor, terdiri dari berbagai macam komponen. Ada mesin, knalpot, busi, karburator dan lain sebagainya. Kemudian lakukan riset : motor mana yang punya mesin terbaik, knalpot terbaik, busi terbaik, dan seterusnya. Buat daftar motor-motor yang mengandung komponen terbaik. Setelah itu beli semua motor dalam daftar, dan pretelin semuanya. Ambil komponen terbaiknya, dan buang sisanya. Komponen yang terkumpul ini kemudian ditata lagi untuk menjadi sebuah motor. Selesai.

Yakin ? tanpa masalah ?

Pada kenyataannya, komponen-komponen itu ternyata tidak mudah untuk disatukan menjadi motor. Ada yang selangnya beda ukuran, ada yang sekrup-nya kurang panjang, dan banyak masalah ketidak cocokan yang lain. Cara berpikir analisa yang biasa kita pakai ternyata tidak bisa memecahkan masalah ini. 

Paradigma berpikir seperti ini biasa disebut Newtonian reduksionis. Dimana kita mereduksi MOTOR, menjadi komponen-komponennya. Kita pelajari secara detail komponennya, dengan berasumsi bahwa motor secara keseluruhan ‘hanyalah’ total dari komponen-komponen yang ada. TItik beratnya pada meneliti komponen. 

Paradigma ini terbukti berhasil dipakai di banyak bidang ilmu. Bahkan saya berani mengatakan bahwa paradigma ini yang dominan membesarkan revolusi industri dan meluncurkan dunia modern yang kita rasakan saat ini. Tidak buruk sama-sekali. Tapi bukan berarti bisa menjawab semua masalah.

Ada paradigma berpikir lain yang ditawarkan. Bukan terutama berbasis pada analysis, tapi lebih pada synthesis. Pada kasus motor diatas, deskripsi utama atas sistem motor bukanlah pada komponennya. Tapi lebih pada koneksi antar komponen-komponen tersebut. 

Motor bukanlah hanya kumpulan komponen, tapi komponen yang berinteraksi sedemikian rupa untuk membentuk entitas baru, yaitu Alat Transportasi. Sebuah fungsi yang tidak terdapat pada masing-masing komponennya. Mesin, busi, karburator, dll bukanlah alat transportasi. Hanya ketika mereka berinteraksi dengan konfigurasi tertentu, muncullah yang bernama : motor. Fenomena yang disebut Emergence (pegari). 

Coba kita terjemahkan ini pada lingkungan sosial. Semut adalah makhluk sosial dengan anggota bisa sampai jutaan organisme. Mereka bisa hidup dengan sangat tertata dan pembagian kerja yang sangat rapi. Ini yang membuat mereka bertahan hidup sampai saat ini. 

Sampai sekarang belum ada penelitian yang menunjukkan adanya seekor semut pun yang cukup pandai untuk memahami konsep kompleksitas penataan sosial. Tidak ada kabinet, tidak ada menteri, tidak ada presiden yang marah-marah, tapi terlihat secara nyata bahwa penataan mereka tidaklah sederhana. Bagaimana ini bisa terjadi ?

Emergence. Seperti motor tadi. Ketika komponennya berinteraksi dengan konfigurasi dan feedback loop tertentu, mereka akan menghasilkan emergence tertentu juga. Emergence semut di’wasit’i oleh alam. Dengan reward-punishment jelas : hidup-mati. Semut tentu melalui percobaan bermacam-macam terhadap jenis pola interaksinya. Dan yang bertahan hidup dianggap sukses, bisa mendapatkan keturunan dan meneruskan pola tersebut.

Kembali pada perspektif dan waktu.

Pola penataan top down selalu mengandung sifat terbatas pada pengetahuannya. Penataan ini biasanya berdasar dari paradigma Newtonian reduksionis. Lagi-lagi perlu saya tekankan, tidak selalu universally buruk. Hanya ada ‘jebakan’ disini yang sangat perlu diperhatikan. Paradigma reduksionis mengandung beberapa asumsi dasar, salah satu contohnya : “asumsi bahwa keadaan adalah statis”. Karena jika variabel tidak statis, ‘rumus’ tidak akan bisa cukup dianggap akurat untuk dipakai. Padahal kita alami bersama bahwa keadaan sistem-sosial adalah dinamis dan selalu berubah. Pola-pola emergence harus dipupuk agar terus muncul. Pola-pola ini akan ada yang hilang, akan ada yang bertahan. Tapi yang bisa dipastikan, pola ini akan dinamis sesuai perkembangan zamannya. 

Perubahan fundamental yang paling aman akan terjadi dari pola emergence ini (belajar dari jutaan tahun cara kerja alam). Sementara kita sendiri belum punya kawah candradimukanya yang cukup sistematis untuk stimulasinya. 

Sebelum wahana candradimukanya, perlu dibangun kesadaran bersama, bahwa semua orang/komponen adalah penting. Karena setiap komponen punya pengaruh pada seluruh sistem. Perspektif semua komponen dan kebersediaan untuk meluangkan waktu di kawah candradimuka perlu kita lakukan bersama. Karena hanya dari situ akan muncul emergence. Pola baru yang masing-masing komponen tidak sadar secara penuh, tapi menjadikan penataan yang luar biasa. Melebihi ke’pandai’an semua pelakunya.

Perkawinan antara para komponen pelaku dan kawah candradimuka, akan menghasilkan kapasitas adaptasi. Dengan itu kita tidak hanya siap menghadapi masalah saat ini. Tapi juga masalah yang belum datang atau bisa kita bayangkan.

Pada skala itu, ternyata kita hanya seperti semut. Tapi kebetulan sudah bisa naik motor.