Yang Perlahan Kita Biarkan
Kita hidup di negeri khatulistiwa.
Alam yang indah.
Tanah surga, subur tiada terkira.
Laut yang melimpah ruah.
Tanah yang menyimpan emas, perak, dan permata.
Negeri ini juga memiliki sejarah yang agung.
Kehidupan para ksatria,
orang-orang waskita,
dan raja-raja yang berwibawa.
Namun kini,
semuanya terasa telah jauh melampaui.
Keserakahan dan kesombongan
mendominasi.
Seolah sengaja diciptakan.
Dikurung dalam wadah,
dilempar “pisang”,
agar kita saling berebut.
Padahal kita lupa,
bahwa kitalah sebenarnya
pemilik kebun itu.
Para mutiara semakin terpendam.
Sementara para kepala batu
justru berada di singgasana.
Orang-orang cerdas
perlahan menghilang.
Tertutup oleh mereka
yang hanya pandai menjilat.
Zaman seperti apa ini.
Sudah beberapa generasi
kita seperti sengaja dikurung
dalam kebodohan.
Tidak diberi ruang untuk berpikir kritis.
Bahkan dibuat percaya,
bahwa nasib kita
telah ditentukan oleh mereka
yang berkuasa.
Kita disuguhkan kenikmatan semu.
Kebahagiaan yang kosong.
Dikurung dalam sangkar,
seolah kebodohan adalah nasib.
Seolah penderitaan
adalah kawan lama
yang harus kita terima.
Dan yang lebih berbahaya,
kita tidak merasa sedang dikendalikan.
Kita justru menikmatinya.
Merasa bebas,
padahal arah sudah ditentukan.
Kita dikelola,
seperti sapi perah dan ayam petelur.
Dan yang lebih sunyi,
kita tidak sedang mencari kebenaran.
Kita hanya mencari
yang terasa benar bagi kita.
Kita memilih informasi,
bukan memahaminya.
Memilih yang menguatkan,
menghindari yang meragukan.
Perbedaan tidak lagi dilihat.
Ia langsung ditolak.
Yang tidak sejalan dianggap salah.
Yang sejalan,
langsung kita percaya.
Kita tidak lagi berdialog.
Kita hanya bergantian berbicara,
tanpa pernah benar-benar mendengar.
Dan anehnya,
kita menyebut itu sebagai kesadaran.
Padahal mungkin,
itu hanya keyakinan
yang tidak pernah kita uji.
Yang keras kepala
dengan bangga berbicara
tentang keberhasilan,
kejayaan,
dan kemenangan.
Tapi di bawah langkahnya,
banyak yang sedang mati-matian
hanya untuk bertahan hidup.
Mengambil sebutir demi sebutir,
agar cukup menjadi semangkuk
untuk dibawa pulang.
Bahkan ketika racun hadir,
mereka tetap menelannya.
Anak-anak muda
sudah sampai pada titik yang mengkhawatirkan.
Terjerat pinjaman,
permainan,
zat yang melumpuhkan,
dan kehilangan arah.
Bukan karena mereka lemah.
Tapi karena tidak ada lagi
yang benar-benar bisa dijadikan panutan.
Mungkin yang perlu kita lihat
bukan hanya keadaan.
Tapi bagaimana kita
menerimanya,
tanpa pernah mempertanyakan.
Layar-layar hari ini,
benarkah kita melihat?
Atau hanya menonton,
tanpa benar-benar memahami.
Yang disajikan terasa biasa.
Padahal,
yang hilang jauh lebih besar.
Dan ini,
sepertinya belum mencapai puncaknya.
Bonus demografi,
berjalan berdampingan
dengan kecanggihan teknologi.
Ruang berubah.
Batas semakin kabur.
Informasi datang tanpa henti.
Tapi tidak semuanya benar.
Suara semakin banyak.
Tapi tidak semuanya didengar.
Jeritan
sering kali terdengar
seperti tepuk tangan.
Oh Tuhan,
kami telah berjalan jauh,
namun bukan menuju arah yang benar.
Kami merasa yakin,
padahal kehilangan arah.
Dan jika Engkau tidak menuntun,
mungkin kami tidak akan sadar,
bahwa kami
sedang tersesat.