Generasi Larva: Mulai dari mana?

Konsep Kunci #Seri 1

Generasi Larva: Mulai dari mana?

Image by Geralt from Pixabay

SM Damar Panuluh

Founder of symbolic.id.

Pecinta teka-teki Observable World.

 

Tahun 2008, saya menulis esai berjudul ‘Generasi Larva’. Catatan yang berangkat dari pengamatan keadaan sekitar. Tentang beragam ketidakpuasan pada penanganan barisan masalah yang meletup kala itu. Dorongan-dorongan untuk melakukan perbaikan mengalir dari berbagai kalangan. Teriakannya saling sahut, menuntut perubahan.

Ada yang prihatin dengan kemarakan praktik korupsi. Tak sedikit ahli yang mengecam kebobrokan hukum kita. Keluhan-keluhan di bidang ekonomi tak kalah riuh. Berbagai keputusan yang diambil pengampu regulasi, ditimbang tidak pas. Dari ranah pertanian menyeruak bermacam kegelisahan. Julukan negeri agraris yang disandang Indonesia seolah-seolah tak layak tersemat, saat dihadapkan pada keruwetan manajemen pangan. Dan banyak lagi. Begitu kompleks serta silang sengkarut. Semuanya sudah beranjak jadi masalah ekosistem, bukan lagi perkara lokal semata.

Kemudian melintas ide di benak saya. Potong generasi! Buat ruang inkubasi khusus untuk membenih society baru. Merintis ekosistem yang sama sekali berbeda dengan masa lalu. Saya menyebutnya ‘Generasi Larva’.

Saat itu, gagasan tersebut belum dalam terselami. Masih berupa kelebatan mentah, tanpa roadmap jelas untuk mencapainya.

Hingga 12 tahun berselang, ‘Generasi Larva’ masih berkutat di kepala saya. Memang bukan waktu yang panjang untuk bisa mencapai komprehensi penuh demi memahami masalah. Tapi paling tidak, rentang tersebut sudah cukup memberi ruang bagi pembentukan hipotesis roadmap, mengenai titik tolak generasi baru itu.

Melaluinya, saya mencoba menjawab keadaan dengan cara yang seminimal mungkin melibatkan darah, tapi cukup efektif untuk membangun perubahan ke arah lebih baik, pada skala ekosistem.

Ada paradox dasar yang perlu dipahami atas tulisan-tulisan ini dan berikutnya. Jika konsep diceritakan secara sangat detail, tentu akan menjadi sangat rumit. Keuntungannya, akan terlihat jelas sistematika dan garis sebab-akibatnya. Jika diceritakan secara sederhana, akan menjadi potensi salah paham karena detailnya bisa terlewatkan.

Karena ini adalah sebuah hipotesis, maka detail menjadi sangat perlu. Agar bisa diserap, dibantah, didiskusikan bersama. Tapi kebutuhan untuk mudah dicerna juga sangat penting. Maka konsep-konsep tersebut akan ditulis pada pecahan-pecahan tulisan seperti ini. Seperti mambangun rumah, bata demi bata, tiang demi tiang.

 

Bernegosiasi dengan waktu.

Dimulai dari mengenal diri sebagai manusia. Ini syarat utama sebelum melangkah kemana pun. Dari sekian banyak ciri dan sifat yang unik pada manusia, terdapat satu kemampuan super power yang perlu saya garis bawahi.

Manusia adalah satu-satunya makhluk di muka bumi yang takut kehabisan waktu. Suka menderita sebab masa lalu, juga gemar tersiksa karena kemungkinan masa depan.

Kesadaran akan rentang waktu, ibarat pedang bermata dua. Dia bisa menjadi ancaman yang menyiksa, sekaligus senjata luar biasa untuk melanjutkan hidup. Ketika manusia menyadari bahwa masa depan merupakan konsekuensi dari perilaku sekarang, maka masa depan bukan lagi ancaman. Melainkan sebentuk harapan.

Lumrah saja, jika kita pernah membayangkan masa depan yang ideal. Mimpi dan cita-cita selalu dipertanyakan sejak masih ingusan. Ini membuat kita waspada terhadap masa depan.

Cita-cita hanyalah akibat. Yang perlu diperhatikan justru musababnya. Tentang upaya yang harus ditempuh untuk mencapai akibat yang diharapkan.

Untuk lekas menyandang gelar sarjana, seseorang perlu mengorbankan waktu bermain. Bahkan melewatkan pacaran, demi lancar menyusun skripsi. Demikian juga saat ingin berhasil menjadi olahragawan ulung. Dia harus berani mengesampingkan kesenangan nonton bioskop, lantas mengisi kesempatan dengan ketekunan latihan.

Pengorbanan adalah konsep kunci. Sampai-sampai agama meletakkannya sebagai proses yang wajib dijalani manusia. Kalau kita tidak siap dengan konsep ini, usaha merengkuh cita-cita tidak akan sistematis. Serba serampangan, seperti main dadu.

Super power manusia terhadap waktu ini membuat manusia bisa punya pengaruh luar biasa atas apa yang akan terjadi di masa depan. Manusia bisa memilih yang ingin dia lakukan, atau memilih apa yang PERLU dia dilakukan. Melakukan sesuatu karena INGIN, lebih banyak berdasarkan pada keadaan saat itu saja. Sedangkan melakukan yang harus / PERLU dilakukan, membutuhkan kekuatan lebih. Pengorbanan.

Katakanlah kita siap berkorban. Terus bagaimana?

Tentukan horizon yang dituju, definisikan garis finishnya. Masa depan yang seperti apa yang ingin diwujudkan ?