Batik Tumpengan Di Tengah Pandemi

Batik Tumpengan Di Tengah Pandemi

Batik Tumpengan Di Tengah Pandemi

fedep.salatiga. “Batiknya kena lockdown,” Kata Minaryati atau bisa di panggil Mbak Mimin sambil tertawa. Mimin adalah pengelola Batik Tumpengan Salatiga, Sabtu, 13/5 di rumahnya saat dihubungi fedep.salatiga terkait dengan kabar usahannya di tengah pademi covid ini. Mimin mengelola batik tumpengan dan masuk dalam klaster batik di Kota Salatiga. Batik Tumpengan sudah terdaftar dan sejak tahun 2014 sehingga Mimin memiliki hak menggunakan merek tersebut selama  sepuluh tahun sejak terdaftar dan bisa diperpanjang.

“Yang saya lakukan adalah bereksperimen dengan motif-motif batik, misal membuat sibori dengan ciprat, jumput dengan sibori, motif smoke2, dan lain lain.” Kata lebih lanjut terkait kegiatan yang telah dilakukan semenjak pademi ini berlangsung. Ini tentu menambah portofolio dari sejumlah motif batik tumpengan yang telah ada sebelumnya.

“Kebetulan sekarang ini ada beberapa pesanan  kain printing , diantaranya seragam sekolah SMP, smk, lumayan.” Kata Mimin menyebutkan aktifitasnya yang masih berlangsung sambil menyebut sejumlah nama sekolah SMP dan SMK yang memesan seragam batik darinya. Sejumlah pesanan ini menjadi nafas Mimin untuk tetap menekuni usaha batiknya untuk beberapaa waktu ke depan. Walaupun pesanan ini tentu harus dikerjasamakan dengan pihak lain karena pesanannya adalah batik printing. Sementara Mimin adalah pengusaha batik tulis. “Iya tapi sebagai perantara mas, kalau batik saya sendiri  agak tersendat.” Kata Mimin menjelaskan.

Motif Batik Tumpengan yang lain

Ia menambahkan bahwa pesanan batik dari sejumlah sekolah ini dikerjasamakan dengan rekan bisnisnya di Solo. Sehingga bisa berbagi pekerjaan dan keuntungan. “Intinya gini mas , saya diminta tolong  beberapa sekolahan untuk membuatkan seragam, kalau printing kan gak bisa bikin sendiri, terus saya bekerja sama dengan temen yang ada disolo, itu aja.” Kata Mimin menambahkan penjelasannya.

Terkait dengan konsumen produknya Mimin mengatakan ada perubahan. Konsumen batiknya menurun dan justru konsumen bahan batiknya yang meningkat. Hal ini tetap ditangkap oleh Mimin dengan menguatkan persediaan bahan bahan untuk membatik. “Konsumen lain ada di pembelian bahan pokok mas, langganan saya SMP-SMP  di kabupaten malah, beli bahan-bahan batik untuk ujian-ujian. Kalau produk tumpengan sendiri emang saya kurangi, gak punya tenaga profesional mas. Wis sitik sitik tapi jalan.” Kata Mimin.

Mimin tidak mau larut dalam pademi ini. Ia memiliki sejumlah rencana kedepannya, termasuk menyambut new normal hingga nanti ketika situasi betul betul normal. Mimin ingin menguatkan bisnis sebagai penyedia bahan bahan batik, dan mentor batik. Ia berpandangan bisnis ini akan prospektif dan viseable sehingga menarik untuk digeluti dan dikembangkan. “Kedepannya  saya ingin merintis sebagai mentor batik, dan penyedia bahan batik. Kelihatannya menjanjikan mas, saya punya sertifikat kompetensi batik, usaha saya sudah saya legalkan dengan akte notaris.” Kata Mimin dan tidak lupa menunjukkan sertifikat sebagai pembatik tulis yang diterbitkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi atau BSNP.

Sertifikat sebagai pembatik yang diterbitkan BSNP

Sertifikat ini diperoleh Mimin melalui ujian sertifikasi di tahun 2019, tepat beberap bulan sebelum covid melanda. Dalam sertifikat tercantum kompetensi yang dikuasai oleh Mimin. Diantaranya terkait dengan membuat reng-rengan. Kedua terkait nglowong, ngiseni dan nerusi. Lalu yang ketiga kompetensi terkait dengan mopok, nembok, nutup dan mbironi. Ketiga kompeteni adalah kompetensi yang perlu dikuasai oleh seorang pembatik tulis. Mimin juga menunjukkan legalitas usahannya yang diterbitkan kemenkumham. Legalitas usahannya dikeluarkan di tahun 2018./jb

sumber fedep kota salatiga